2021, From Failures to Self-Esteem

Assalamualaikum.

Alhamdulillah akhirnya bisa gabung Mamah Gajah Ngeblog dan alhamdulillah akhirnya sempat juga membuat blog post ini untuk setoran Mamah Gajah Ngeblog bulan November dengan tema “Pelajaran Hidup Tahun 2021”.

Bangkit dari Kegagalan

Sepertinya kegagalan adalah sahabat saya. Saya sering banget gagal. Termasuk di tahun 2020 di mana saya kehilangan LoA dari NTU Singapura dan juga kegagalan lainnya.

Kecewa dan sakit hati tentu ada. Namun, di tahun 2021 Allah mendidik agar tetap harus bangkit sesakit dan sekecewa apapun kondisinya. Jadi waktu itu walaupun hati terobrak abrik, saya tetap harus memaksakan diri untuk tetap bergerak. Agar dapat LoA lagi dari NTU Singapore, saya belajar GRE lagi untuk mengambil kembali tes GRE. Bagi yang udah pernah tes GRE, mungkin tahu betapa besarnya effort dan biaya yang harus dikeluarkan untuk tes GRE.

Alhamdulillah, nilai GRE yang keluar pas-pasan sekali, VR 153 QR 167, WA 3.5. Nilai yang benar-benar pas-pasan untuk apply lagi. Alhamdulillah akhirnya dapat LoA lagi.  Setelah itu, LoA yang didapatkan dari NTU digunakan untuk apply LPDP. Karena agak malas-malasan karena hamil besar, akhirnya tes substansi LPDP tanpa persiapan. Hasilnya? Gagal di tes substansi dengan hanya kurang satu poin.

Di quartal ketiga tahun 2021, saya daftar lagi LPDP. Sudah lulus tes administrasi, lulus tes substansi, dan sampai di tahap wawancara. Belum tau hasilnya bagaimana, tapi dari keseluruhan proses itu, rasanya Allah terus mendidik bahwa agar saya terus berusaha dan berusaha, sambil menata hati untuk siap menerima segala hasilnya.

Selain itu, sebelum membuat Nabitu.id, saya sempat mengkonsep crowdfunding investasi bersama beberapa rekan. Karena beberapa perbedaan pendapat dan trust issue, tim tidak bisa dipertahankan. Waktu itu, rasanya hancur dan hampir putus asa apakah usaha ini perlu dilanjutkan atau tidak. Hampir setiap hari, istikharah meminta petunjuk, apakah usaha investasinya perlu dilanjutkan. Alhamdulillah, setelah itu ada beberapa teman yang meminta dicarikan dan dikoordinasikan investasinya. Bahkan bertambah.

Dari sini, saya belajar lagi untuk terus bangkit dan bangkit lagi setiap menemui kegagalan. Mental jadi lebih seperti springboard kalau menemui kegagalan. Begitu jatuh ke bawah, harus mental lagi untuk loncat lebih tinggi.

Baca Juga: Twists and Turns of Ph.D. Journey (1)

Belajar Bahasa menggunakan SRS

Di rentang bulan Februari-April, saya berusaha mengejar score GRE agar bisa diterima di NTU kembali. Sebelumnya, sy bisa berpuas diri dengan score TPT (tes khusus yang diselenggarakan NTU untuk mengganti GRE). Sayangnya, pandemi covid datang dan kampus tidak bersedia defer. Score TPT hangus dan hanya ada pilihan ambil score GRE.

Bagian Verbal Reasoning jadi momok karena membutuhkan hafalan dan penguasaan kosa kata yang sulit dan banyak, sementara exposure saya dengan bahasa Inggris semasa muda agak kurang. Saya mencari cara untuk belajar kosa kata yang banyak. Sy menemukan teknik belajar kosa kata, namanya SRS, Spaced Repetition System.

Spaced Repetition System adalah cara belajar dan menghafal kosa kata menggunakan flash card dan Leitner box. Kosa kata yang sulit dihafal akan lebih sering diulang, sementara kosa kata yang lebih mudah dihafal akan lebih jarang diulang. Leitner box adalah box yang dibagi menjadi 7 bagian, di mana satu bagian merepresentasikan level tingkat kesulitan menghafal kosa kata.

Setiap hari, flash card ditambah 30 kosa kata baru yang harus dihafalkan dan kita perlu mengulang kosa kata lama di level tertentu sesuai jadwal yang ditentukan. Jika masih ingat, maka naik ke level selanjutnya, jika sudah lupa, maka turun ke level di bawahnya.

Dengan menggunakan SRS ini, di rentang Februari-April saya menghafal sekitar 2000-an kosa kata bahasa Inggris yang sulit-sulit. Alhamdulillah cukup untuk lulus tes GRE. Tapi setelah lulus beberapa bulan kemudian, ternyata banyak juga yang saya lupakan hehe. Ternyata untuk benar-benar menguasai bahasa, ternyata teknik ini tidak bisa berhenti dipraktekkan. Yang namanya belajar bahasa, harus setiap hari dan terus menerus. Kalau berhenti, maka kata-kata yang sudah dihafalkan akan terlupakan lagi. Jadilah sekarang mungkin 50% sudah lupa lagi hehe.

Tapi setidaknya saya sudah menemukan cara untuk mem-boost hafalan kosa kata bahasa Asing. Jika sewaktu-waktu ingin mendalami bahasa Asing lagi, saya bisa pakai teknik SRS ini lagi.

Karakter manusia sangat kompleks. Jangan menilai seseorang dari satu hal saja.

Suatu hari, ada seorang bapak bergamis dan berjenggot menghubungi. Dia bilang, dia tertarik dengan Nabitu. Beliau meminta dicarikan modal untuk usaha propertinya di Soreang dengan skema syirkah. Namun ternyata bapak itu bukanlah pemilik usahanya, tapi dia menghubungkan saya kepada temannya yang lainnya lagi. Singkat cerita, kami dari Nabitu memutuskan untuk tidak mengambil proyek properti tersebut karena berbagai hal. Namun tidak disangka, bapak yang tampilannya sangat islami tersebut mengeluarkan sumpah serapah yang luar biasa.

“Kaleng-kaleng”. “Nggak becus”. “Nggak bertanggung jawab”. “Cuma cari untung aja ya?”

Astagfirullah. Padahal saya belum pernah menjanjikan apapun. Yang kami lakukan baru penjajakan saja. Dan tentu hak kita untuk menolak. Namun ternyata bapak itu sangat berharap dan sangat kecewa ketika proyeknya bersama teman-temannya tidak mendapatkan modal. Di luar dugaan saya, seorang yang tampilannya sangat islami dan sepertinya memahami fiqih muamalah maaliyah bisa berkata-kata sangat buruk dan sepertinya terbiasa melakukan itu.

Kisah lainnya lagi, saya butuh pengganti ART yang sebelumnya pulang pergi. Kali ini, saya butuh ART menginap karena akan lahiran anak ketiga. Saya melakukan penjajakan kepada seseorang, katakanlah Mba C. Saat wawancara, saya melihat Mba C sangat islami dan memegang tauhid. Walaupun di awal saya heran mengapa pengalaman kerjanya tidak ada yang bertahan lama, kurang dari setahun dan cenderung loncat-loncat. Karena alasan keislaman beliau yang nampaknya bagus, akhirnya saya merekrut Mba C tersebut. Keislaman jadi pertimbangan karena saya harap ART di rumah saya bersedia menutup aurat dan bisa membantu mengasuh anak dengan pengasuhan yang islami.

Alhamdulillah Mba C ternyata sangat ketat dalam menutup aurat bahkan di dalam rumah. Beliau juga suka mengaji dan membawa buku-buku bacaan tentang tauhid di kamarnya. Tentu hal ini saya apresiasi. Seiring berjalannya waktu, ternyata Mba C sulit mengikuti arahan saya. Beliau punya keinginan sendiri dan tidak percaya pada arahan saya, seperti arahan saya salah terus. Selain itu, beliau juga suka menentang jika ada perbedaan pendapat, misal vaksin atau tidak. Bahkan setelah itu dia mudah memaki-maki orang yang berbeda pendapat dengannya sampai pasang status segala. Pandangan keislamannya ternyata kaku dan kasar sekali. Akhirnya saya hanya mempekerjakan beliau selama 2.5 bulan. Saya nggak tahan banget.

Baca Juga: 8 Manfaat Memiliki Asisten Rumah Tangga

Cerita lainnya lagi dari seorang kenalan saya yang sebelumnya sangat saya percaya karena pemahaman keislamannya. Saya sempat banyak belajar tentang manajemen keuangan islami dari status-status Facebook beliau. Saya juga sempat belajar tentang riba dan syirkah dari status Facebook beliau juga. Setelah bermuamalah dengannya, ternyata ada sisi beliau lainnya, yaitu beliau terlalu memamerkan sesuatu yang tidak perlu dipamerkan. Dan juga ada hal-hal lain yang sulit saya tolerir sampai saya tidak tahan berlama-lama komunikasi dengannya. Ini benar-benar di luar dugaan saya sebelumnya. Saya kaget aja kok perilaku dengan status Facebooknya bisa sangat berbeda.

Baca Juga: Apa itu Syirkah?

Dari beberapa yang saya alami tersebut, saya belajar bahwa seorang yang sangat memahami ilmu islam dan sangat tampil islami ternyata perilakunya bisa sangat berubah dan berbeda dengan apa yang dia fahami dan gembar-gemborkan di sosial media. Sehingga saya sekarang tidak terlalu terkesan pada seseorang yang mudah ceramah atau mengkutip ayat-ayat Al-Qur’an. Saya ambil ucapannya yang baik, tapi tidak langsung percaya pada orangnya. Ucapannya belum tentu mencerminkan kepribadian sebenarnya. Kepribadian sebenarnya baru benar-benar kita kenal ketika sudah berinteraksi dan bahkan bermuamalah langsung. Kita benar-benar tidak bisa menilai seseorang dari apa yang dia ucapkan.

Jangan Lihat Cangkangnya

Ini masih berhubungan dengan kisah sebelumnya, yaitu jangan lihat cangkangnya. Tapi, ini lebih kepada produk.

Dulu, saya percaya sekali dengan apa-apa yang berlabel syariah. Termasuk properti syariah. Saya membeli rumah kecil di daerah Setiabudi coret dengan akad istishna (akad pesan buat) dari sebuah developer dan marketing properti syariah. Saya percaya karena labelnya syariah dan akadnya memang syariah (yaitu akad istishna). Namun, ternyata setelah dua tahun, rumahnya tidak kunjung jadi. Selain itu, perizinan dan legalitasnya juga ternyata tidak mengikuti hukum positif yang berlaku. Seharusnya AJB dibuat dari akad antara customer dan developer. Ternyata AJBnya dibuat antara customer dan pemilik tanah sebelumnya. Pihak developer mem-bypass proses tersebut agar tidak kena pajak, tidak bayar notaris dan tidak perlu ribet di masalah administrasi. Yang saya sayangkan, mengapa developer yang mengaku syariah harus memanipulasi dokumen untuk terhindar dari pajak. Kalau syariah, kenapa tidak jujur di hadapan hukum positif yang berlaku?

Kalau AJBnya sudah saya tanda tangan ya alhamdulillah sudah aman sih. Tapi dari proses menuju ke sananya itu, saya melihat bahwa label tidak menggambarkan apa yang sebenarnya ada di dalamnya.

Ada cerita lainnya lagi yaitu ketika atasan di sekolah anak saya yang mengedepankan kurikulum iman dan Al-Qur’an ternyata anti vaksin, menganggap covid adalah prasangka dan bahkan tidak percaya kesehatan modern. Hellooo, bahaya covid 19 senyata itu, kematian dokter dan pasien sebanyak itu, pasien ICU yang sempat berhamburan ke parkiran RS, tapi masih dianggap prasangka? Kaget saya begitu tahu hal ini. Maaf saya buka, soalnya penting sekali sih ini. Tapi ya sudah, saya tidak bisa memaksakan pendirian saya juga.

Saya sedih, miris, heran, mengapa orang-orang dan produk yang membawa nama Islam malah tidak merepresentasikan Islam itu sendiri. Seperti daging yang terlepas dari cangkangnya. Inilah zaman, ketika Islam tidak ada di tangan muslim. Inilah zaman di mana kita harus belajar kecerdasan dan sebagian akhlak kaum muslimin dari kaum non-muslim.

Baca juga: Jangan Lihat Cangkangnya

Kalau Allah Sudah Berkehendak, Kita mah Bisa Apa

Pelajaran ini saya ambil dari kelahiran anak saya yang ketiga yang tidak saya duga prosesnya sangat amatlah mudah dengan usaha yang bisa dibilang sangat minim.

Waktu lahiran anak kedua saya, saya berusaha banget untuk bisa lahiran normal. Usaha maksimal saya kerahkan, dari mulai jalan kaki setiap hari, senam hamil, penjagaan nutrisi, dan lain-lain. Tapi kondisi eksternal ternyata tidak memungkinkan saya untuk lahiran normal. Rasanya, usaha keras saya kok tidak ada hasilnya, bisa dengan mudah Allah gagalkan. Ini berbeda dengan proses kelahiran anak ketiga saya yang benar-benar terbalik. Usaha sangat minim, selama hamil kerjanya rebahan dan cuma olahraga di bulan terakhir. Tapi ternyata pas lahiran mudah banget. Kontraksi di fase aktif cuma 1,5 jam aja dan langsung brojol.

Anak ketiga yang mudah banget lahirnya.

Di sini saya juga belajar bahwa benar-benar, kalau Allah sudah berkehendak, kita bisa apa? Nggak bisa apa-apa. Dari kelahiran anak kedua dan kelahiran anak ketiga yang proses dan hasilnya bertolak belakang, saya jadi belajar benar bahwa memang ketika berusaha maka tujukanlah itu untuk ibadah, untuk Allah, dan jangan ditujukan untuk mendapatkan hasil. Klise ya? Iya memang klise. Terdengar seperti nasihat lama yang diulang-ulang saja. Tapi dalam prakteknya, saya jadi faham bahwa memang Allah se-berkuasa itu untuk membalikkan dunia, mengubah harapan kita, memutarbalikkan hasil usaha kita. Allah benar-benar bisa menggerakkan atom-atom kecil seluruh benda dan hormon-hormon kimia dari seluruh makhluk di dunia ini. Oleh karena itu, teruslah menaruh harapan dan prasangka baik hanya kepada Allah, sang Penguasa Dunia.

You’re Good Enough

Di tahun 2021, saya juga berjuang untuk mengatasi perasaan minder dan rendah diri. Entah kenapa saya sering merasa kurang dan kurang. Siapa sih saya, hanya ibu rumah tangga yang coba bekerja serabutan ini itu tanpa status dan jenjang karir yang jelas. Masa lalu saya kok kayaknya buruk sekali. Rasanya tidak ada karya yang patut dibanggakan. Kok saya nggak punya banyak temen kayak yang lain. Kok rasanya teman saya sedikit banget. Saya salah terus sih jadi gagal terus. Begitulah pikiran-pikiran negatif yang sering muncul di kepala saya. Saya berusaha menangani perasaan itu sambil terus bergerak aja melakukan apa yang saya dilakukan.

Perasaan insecure semakin bertambah-tambah karena habis melahirkan, badan masih melar dan susah turun beratnya hehe. Sampai sering dengerin lagu Alessia Cara – Scars to Your Beautiful, hanya untuk menghibur diri.

And you don’t have to change a thing
The world could change its heart
No scars to your beautiful
We’re stars and we’re beautiful
No better you than the you that you are
No better life than the life we’re living
No better time for your shine, you’re a star
Oh, you’re beautiful, oh, you’re beautiful

Alessia Cara

Di bulan November, saya latihan wawancara dengan beberapa rekan. Ternyata rekan-rekan yang saya ajak wawancara baik semua. Saya terpengaruh oleh perkataan mereka.

“Pengalaman ini menjual banget. Setiap episode dan pengalaman adalah sangat berharga.”

“Jangan fokus pada kelemahan kita. Kelemahan itu hanya satu bagian kecil dari banyak kehidupan yang lain (yang banyak positifnya).”

“Jangan merasa nggak berharga, banyak yang bisa dihargai dari CV tth. Kekurangan nggak usah diminderin, Jual sisi kelebihan yang lain.”

Ketika saya merasa nggak produktif, seorang teman malah bilang “Justru teteh malah produktif banget, bikin ini itu. Ini bagus banget.”

Sisi negatifnya, ternyata saya masihlah seorang manusia yang sangat terpengaruh oleh ucapan manusia. Terlalu mudah jatuh dan mudah melambung karena komentar-komentar mereka. Astagfirullah. Ya gimana lagi ya memang masih segini levelnya. Tapi di sisi positifnya, saya jadi lebih bisa mengapresiasi kehidupan dan diri sendiri jika dikelilingi oleh orang-orang positif yang mudah menghargai dan mengapresiasi.

Selain itu, proses healing ternyata lebih mudah ternyata ketika saya lebih banyak menulis. Setelah anak ketiga umur 3 bulan, saya merasa lebih punya waktu untuk menulis. Kalau selesai menulis satu artikel dengan cukup rapi dan ter-publish di blog, kayaknya ada perasaan “accomplished“, sehingga bisa membantu menyembuhkan perasaan rendah diri. Menulis jadi seperti sebuah kebutuhan sekarang.

Insya Allah, kita dan kehidupan sungguh adalah pemberian berharga yang telah Allah berikan. Kita itu cukup baik kok. Bukankah manusia itu tempat salah dan kurang? Bukankah semua manusia juga punya kesalahan dan kekurangan? Bukankah kehidupan kita masih panjang? Bukankah kita juga berusaha terus memperbaiki diri? Bukankah usaha memperbaiki diri juga pantas diapresiasi?


Demikian pelajaran yang saya dapat di tahun 2021. Semoga jadi bahan evaluasi untuk saya dan semoga ada manfaat bagi yang membacanya. Sampai jumpa di tantangan Mamah Gajah Ngeblog selanjutnya.


You may also like...

21 Responses

  1. Sri Nurilla says:

    Assalammualaikum Mamah Santi. Salam kenal. Makasiiy sudah sharing pengalaman dan pelajaran hidupnya. Saya memperoleh banyak insight dari sini. Alhamdulillah Mamah Santi mampu bangkit dari suatu problema dan tetap maju terus.

    Semoga tetap semangat untuk accomplish semua visi misi yang sudah Mamah Santi rencanakan ya. 🙂

    Btw, masya Allah, foto anak ketiganya sungguh menggemaskan. Ehehe. Lucuuu bangeet

  2. Nurul Nanda says:

    Masya Allah teeh setuju pisan sama pelajaran hidupnya. Kalau tth aja minder, gimana saya yg lebih cuman IRT doang hehe tp setuju sm tth yg lbh baik mengapresiasi diri dibanding berkutat terus dalam keminderan hehehe

    • anbarsanti says:

      Hehe nggak teh. setelah direnung-renungi, itu lebih ke kepribadian. Karena banyak juga teman saya yang IRT tapi Pede, terus berkarya dan bahkan punya manfaat luas. Ada juga yang profesional, gaji besar, tapi selalu merasa kurang dan kurang sehingga kurang bisa berdampak

  3. DIP says:

    Hallo teh, terimakasih udah berbagi cerita… teteh mau nerusin kuliah di NTU kah ceritanya? Semangat ya teh semoga semua proses lancar…

  4. May says:

    Teh Shanti, terimakasih sudah berbagi cerita. Salut dengan semangat Teteh untuk melanjutkan kuliah, semoga dimudahkan segala urusan.

  5. masyaallah … luarbiasa teh santi pengalamannya

    “Dengan menggunakan SRS ini, di rentang Februari-April saya menghafal sekitar 2000-an kosa kata bahasa Inggris yang sulit-sulit” teh kalau boleh tahu cardnya bisa beli di mana? atau buat sendiri … jadi penasaran pingin mencoba.

    salam semangat

    • anbarsanti says:

      Cardnya bikin sendiri teh dari kertas biasa. Satu sisi ditulis kata yang ingin dihafal, satu sisi lagi ditulis definisinya, cara mengucapkannya. Katanya lebih ampuh kalau sisi definisinya ini bahkan digambar dan diwarnai. Jadi kita hafal ilustrasi dari kata itu… Salam semangat juga teh Dewi

  6. Riskawati Chandra says:

    Hai teh, tertarik dengan bagian, “mengapa orang-orang dan produk yang membawa nama Islam malah tidak merepresentasikan Islam itu sendiri.” Beberapa kali saya juga mengalami ini. Orang-orang yang nampaknya Islami, dihormati karena dianggap pemuka agama, malah kemudian tingkah lakunya jauh dari apa yang diajarkan agama. Ketika kami kritik dengan baik-baik, malah dibilang kami yang tidak paham agama. Hiks. Sedih rasanya. Semoga ke depan bisa lebih baik ya teh.

    • anbarsanti says:

      Hehe iya teh, kebanyakan orang tidak suka dikritik. Jadi belang gitu sekarang, orang yang faham agama tidak berakhlak, orang yang berakhlak tidak faham agama. enggak semua sih, tapi semoga umat Islam semakin sempurna lagi dalam berislam… Aamiin…

  7. Teh, saya baru tau metode SRS, kapan2 pengen coba ah.. rasanya vocab saya ko ga nambah2. Moga sukses bisa segera kuliah di NTU yaa.. Btw keren teh tulisannya, banyak banget pelajaran dari ‘don’t judge a book by its cover’. Makasih tulisannya teh,, semoga selalu produktif yaa 🙂

  8. Hai Santi.
    Salam kenal ya…
    Metode SRS itu menarik.
    Lalu, soal menilai orang , ya benar, saya setuju. Belakangan inipun saya berjumpa dengan orang yang mengaku sebagai seorang coach. Dia ajarkan kami agar jangan mudah berasumsi. Tapi ternyata dia mudah sekali berasumsi pada orang lain. Di situ saya jadi mempertanyakan kelayakan dia sebagai coach.
    Berteori itu mudah, tapi praktiknya itu membutuhkan jam terbang.

    OK. Sukses selalu ya.

  9. Jangan fokus pada kelemahan kita. Kelemahan itu hanya satu bagian kecil dari banyak kehidupan yang lain (yang banyak positifnya). keren nih teh …

    salam semangat

  10. Risna says:

    Salut dengan usaha untuk sekolah lagi dengan kondisi punya bayi. Semangat terus mbak untuk tetap lebih produktif menulis dan tentunya dengan karya2 lainnya.

  1. December 9, 2021

    […] juga jadi ingat kisah ART sy sebelumnya yang saya ceritakan di sini. Beliau menutup aurat pandai sekali, sholat dan mengaji pandai sekali, namun kerap kali saya […]

Leave a Reply

Your email address will not be published.