Apakah keislaman bisa batal tanpa disadari? Bagaimana menentukannya?

Tulisan ini merupakan lanjutan dari ini dan ini.

Penyebab islam seseorang menjadi batal dan bagaimana menentukannya

Muhammad bin Abdul Wahhab1 merangkum bahwa terdapat 10 pembatal keislaman2, yang menyebabkan pelakunya menjadi kafir, disingkat dalam 10 poin berikut ini:

  1. Syirik dalam beribadah kepada Allah

  2. Menjadikan perantara di antaranya dan diantara Allah, berdoa dan meminta syafaat kepada mereka. (Sesuai dengan QS 39:3, red)

  3. Tidak mengkafirkan orang musyrik atau meragukan kekafiran mereka, atau membenarkan kepercayaan mereka

  4. Meyakini bahwa selain syariat Nabi lebih sempurna daripada petunjuknya, atau sesungguhnya hukum selain Islam lebih baik dari pada hukum Islam, seperti orang-orang yang mengutakaman hukum thaghut di atas hukum Islam.

  5. Membenci sesuatu yang dibawa oleh Rasulullah , sekalipun mengamalkannya (QS 47:9)

  6. Mengolok-olok sesuatu dari agama Allah, atau pahalanya, atau siksanya (QS 9:65-66)

  7. Sihir, termasuk jenis sihir sharf dan ‘athf3, yang melakukannya atau ridho dengannya. (QS 2:102)

  8. Membela orang musyrik dan menolong mereka melawan kaum muslimin. (QS 5:51)

  9. Meyakini bahwa sebagian manusia tidak wajib mengikuti Nabi, dan sesungguhnya ia bisa keluar dari syari’atnya.

  10. Berpaling dari agama Allah, tidak mempelajarinya dan tidak pula mengamalkannya (QS 32:22)

Tidak ada perbedaan pada semua pembatal iman ini di antara bercanda, serius dan takut.4

Sedangkan dalam buku “Mutiara Faidah Kitab Tauhid”5, mengenai berhukum kepada selain Allah dan RasulNya, maka meliputi empat hal berikut:

  1. Pembuat syariatnya, yaitu orang yang menetapkan hukum bertentangan dengan hukum Allah dan RasulNya, maka dia telah kafir.

  2. Hakimnya, yaitu orang yang menerapkan hukum tersebut di dalam proses pengadulan terhadap perselisihan manusia.

  3. Orang yang bertahkim, yaitu orang yang meminta ketetapan hukum berdasarkan hukum tersebut, maka

Jika dia rela dengan hukum tersebut, maka dia telah kafir.

Jika dia diseret untuk berhukum dengan hukum tersebut sementara dia tidak rela, maka dia tidak berdosa.

  1. Negaranya

Jika hukum Allah lebih dominan dibandingkan dengan hukum tersebut, maka negaranya adalah Negara Islam.

Jika hukum tersebut lebih dominan dibandingkan dengan hukum Allah, maka negara tersebut dikatakan sebagai negara kafir.

Dalil yang sering digunakan untuk dengan mudah menjatuhkan vonis kafir pada seseorang adalah ayat berikut ini:

Dan barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maidah :44)

Dalil tersebut digunakan oleh khawarij untuk mengkafirkan khalifah. Ibnu Abbas ketika membantah orang Khawarij yang mengkafirkan khalifah waktu itu. “Itu bukanlah kekafiran yang mereka pahami, dan itu bukanlah kekafiran yang mengeluarkan dari agama. ‘Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir’ (QS 5:44) adalah kufrun duuna kufrin (kekufuran di bawah kekufuran).” demikian sanggah Ibnu Abbas terhadap tuduhan orang Khawarij.6 Sehingga, Ibnu Abbas mengklasifikasikan dua jenis kafir, yaitu kufrun haqiqi/akbar dan kufrun duuna kufrin.

Seseorang dikatakan kafir harus ada ahkamul bayyinat (hukum pembuktian)7. Bahkan di masa Umar pun, jika ada yang mengklaim seseorang kafir, maka klaim itu ditahan terlebih dulu. Ada kesempatan tiga bulan untuk bertaubat. Vonis seseorang kafir atau tidak harus melalui pengadilan. Di pengadilan nanti hakim (qadhi) akan menyelidiki bagaimana jenis kekufurannya, karena kita harus membedakan: ada pelanggaran yang membuat keimanan jadi batal secara total dan mendasar, ada juga pelanggaran yang hanya memberikan dosa besar tapi tidak membatalkan keimanan. Ini bisa dilaksanakan hanya ketika Islam tegak.

Adapun orang-orang liberal yang benar-benar sampai tidak mengimani syariat Allah, menganggap penerapan hukum Allah itu keliru, lebih suka mengikuti aturan manusia, maka orang-orang ini bisa dijatuhi vonis kafir sesungguhnya. Kelak qadhi harus memastikannya dulu, apa benar ia mengingkari hukum Allah secara imani, jika benar, maka ia akan dimintai bertaubat dan bersyahadat kembali, atau jika tidak, ia akan dijatuhkan hukuman mati sebagaimana iqab kepada ahli murtad.

Apa itu Fasiq? Dan kapan seseorang muslim teranggap fasiq?

Fasiq adalah keluar dari ketaatan kepada Allah, dan ada dua macam;

  1. Fasiq kufur

  2. Fasiq yang tidak sampai mengeluarkan seseorang dari Islam, akan tetapi hanya mengurangi keimanannya. Padanya ada pembangkangan, tetapi tidak mengeluarkan pelakunya dari keislaman dan tidak menjadikannya sebagai orang yang fajir, hanya saja ia menjadi orang fasiq8.

Seorang muslim dikatakan fasiq jika melakukan dosa-dosa besar seperti zina, minum khamr, mencuri, memakan hasil riba dan semisalnya dari dosa-dosa besar selama ia tidak menganggap itu perbuatan halal. Ia melakukan hal tersebut karena dorongan hawa nafsu dan syahwat yang mengendalikannya, maka dalam hal ini ia dianggap sebagai orang fasiq. Hukum orang tersebut seperti itu adalah tetap mu’min tapi kurang imannya, atau mu’min namun fasiq dengan dosa besarnya. Ia tetap Mu’min dan termasuk ahli tauhid.9

Yang paling tepat dalam masalah ini adalah, bahwa pelaku dosa itu tidak dikatakan sempurna keimanannya, tidak pula dikatakan “di antara kedua keadaan”, atau seperti dalam lembaga disebutkan “tidak dapat disebut”. Lebih baik dikatakan bahwa ia seorang mu’min yang kurang keimanannya, atau fasiq dengan dosa besarnya. Apabila ia meninggal sedang belum bertaubat, maka urusannya diserahkan kepada Allah. Jika Allah berkehendak, maka akan mengampuninya dan jika Allah berkehendak, maka akan mengadzabnya.10

Demikian dalam hadits Qudsi, “Pergilah engkau dan keluarkan dari neraka orang yang di dalam hatinya terdapat keimanan walau lebih ringan dari berat biji sawi.”11

Golongan yang menghukumi pelaku dosa besar sebagai orang yang keluar dari iman atau islam adalah Khawarij atau Mu’tazilah

Orang-orang Khawarij menghukumi pelaku dosa besar sebagai orang kafir yang keluar dari Diin. Apabila ia meninggal dan belum bertaubat, maka ia kekal di neraka menurut madzhab mereka. Sedangkan menurut Mu’tazilah, mereka mengatakan bahwa orang itu keluar dari Islam tetapi tidak masuk ke dalam kekafiran. Menurut mereka ia berada di suatu keadaan di antara dua keadaan. Ia tidak dikatakan kafir, tetapi tidak juga dikatakan mu’min. Apabila ia belum bertaubat, maka ia kekal di neraka sebagaimana dikatakan oleh orang-orang Khawarij.12

Firman Allah dalam QS 49:9: “Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya”. Dijadikan dua kelompok tersebut bagian dari kaum mu’minin, padahal keduanya saling bertempur.

Juga dalam QS 2:178: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema’afan dari saudaranya, hendaklah mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma’af) membayar (diat) kepada yang memberi ma’af dengan cara yang baik.” Allah menamakan korban dari yang terbunuh sebagai saudara bagi si pembunuh, padahal pembunuhan merupakan suatu dosa besar.

Meragukan kemusliman atau keimanan seseorang atau diterimanya amal seseorang, adalah pemahaman berbahaya. Perbuatan tersebut menggugurkan keislaman dan mengugurkan amal sang penuduh.

Rasulullah bersabda, “Apabila seserang berkata kepada saudaranya: “Wahai kafir” maka ucapan tersebut akan kembali kepada salah satu dari keduanya. “13

Beliau juga bersabda, “Barangsiapa melaknat seorang mukmin maka seolah-olah ia membunuhnya dan barangsiapa menuduh seorang mukmin dengan tuduhan kekafiran maka seolah-olah ia pun membunuhnya14

Dalam hadits qudsi, diceritakan seperti ini: “Tatkala ada seseorang yang berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni fulan”. Maka Allah berfirman: “Siapa yang berani bersumpah atas Nama-Ku bahwa aku tidak akan mengampuni fulan. Aku telah mengampuninya dan aku gugurkan amalanmu”. Padahal itu hanya satu kalimat saja.15

Referensi:

1 Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah ulama yang lahir pada tahun 1703-1792. Ulama yang banyak dijadikan rujukan oleh manhaj Salaf ini banyak menulis mengenai pemurnian aqidah. Kemungkinan besar beliau merupakan mujaddid Abad ke 12 Hijriah.

2 Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab – ad-Durarus Saniyah (10/91)

3 Sihir Sharf = Pengasih, supaya mengasihi. ‘Athf = pembenci, supaya membenci.

4 Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab – ad-Durarus Saniyah (10/91)

5 Abu Isa Abdullah bin Salam, “Mutiara Faidah Kitab Tauhid”

6 Atsar ini diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dalam “Sunan”nya (4/1482/749), Ahmad dalam “Al-Imân” (4/160/1419) dan dari jalannya diriwayatkan Ibnu Baththah dalam “Al-Ibânah” (2/736/1010), Muhammad bin Nashr Al-Marwazi dalam “Ta’zhîm Qadrish Sholâh” (2/521/569), Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya (4/1143/6434, cet. Al-Baz), Ibnu Abdil Barr dalam “At-Tamhîd” (4/237), Al-Hakim (2/313), dan darinya diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (8/20), dari Sufyan bin Uyainah dari Hisyam bin Hujair dari Thawus dari Ibnu Abbas

7 Kitab Ahkamul Bayyinat

8 Asy Syaikh Shalih Fauzan al Fauzan, “STOP Jangan Mudah mengkafirkan dan membid’ahkan”, hal 33, Pustaka Qabail

9 Asy Syaikh Shalih Fauzan al Fauzan, “STOP Jangan Mudah mengkafirkan dan membid’ahkan”, hal 34, Pustaka Qabail

10 Asy Syaikh Shalih Fauzan al Fauzan, “STOP Jangan Mudah mengkafirkan dan membid’ahkan”, hal 38, Pustaka Qabail

11 Ini merupakan hadits Shahih Riwayat Bukhari (8/200, 201), ditemukan juga hadits serupa dari Bukhari versi Fathul bari no. 44, Shahih Muslim 285, Shahih At Tirmidzi no. 2518, Shahih Ibnu Majah no. 4303. Keempat hadits terakhir diakses melalui aplikasi Ensiklopedi Fiqih.

12 Asy Syaikh Shalih Fauzan al Fauzan, “STOP Jangan Mudah mengkafirkan dan membid’ahkan”, hal 36-37, Pustaka Qabail

13 Imam Bukhari dalam Shahihnya 7/97 dari hadits Abu Hurairah.

14 Imam Bukhari dalam Shahihnya 7/84 dari hadits Tsabit bin Dhahak

15 Imam Muslim dalam Shahihnya 4/2023 dari haditsnya Jundub.

You may also like...

2 Responses

  1. July 17, 2019

    […] Tulisan ini merupakan akhir dari tiga tulisan sebelumnya, yaitu ini, ini, dan ini. […]

  2. November 16, 2021

    […] jugaTerlalu percaya ucapan dan janji manusiaBertopeng […]

Leave a Reply

Your email address will not be published.