Apakah seseorang yang lahir dari keluarga Muslim harus bersyahadat?

Pendahuluan

Dari berbagai gerakan islam di Indonesia, terdapat organisasi yang mempraktekan praktek komitmen yang disebut sebagai syahadat, atau kadang bai’at, sebagai gerbang masuk sebagai anggota. Pemahaman ini mereka dasarkan atas hadits dan ayat, namun kita perlu mencek secara langsung akuntabilitas hadits-hadits yang digunakan (apakah shahih atau tidak, redaksinya benar atau tidak), juga akurasi tafsir dari ayat-ayat yang digunakan. Walaupun penggunaan tafsir ayat bil ayat memang salah satu metode yang shahih digunakan, namun itu tidak cukup.

Metode tafsir yang shahih adalah salah satunya metode tafsir bil ma’tsur, yaitu tafsir yang bersumber dari Allah yang terdapat di dalam al Quran, Nabi Muhammad , shahabat dan tabi’in. Tafsir ini adalah bentuk penafsiran yang paling tua dan memiliki tingkatan tafsir yang paling tinggi dan paling benar dalam khazanah intelektual Islam. Hal ini umum diketahui di pesantren. Contoh tafsir bil ma’tsur adalah tafsir Al Qurthubi dan Ibnu Katsir. Metode tafsir yang kedua adalah tafsir bil Ra’yi, yaitu tafsir berdasarkan akal atau ijtihad. Tafsir ini hanya bisa diterima jika tidak bertentangan dengan tafsir bil ma’tsur.

Wahai manusia! Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Rabbmu. dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang” (QS 4:174)

Di sisi lain, pemahaman muslim-non muslim yang difahami oleh sebagian besar anggota organisasi tersebut menyebabkan perpecahan baik di dalam internal organisasi maupun external organisasi. Selain itu, pemahaman ini tidak bisa diterima oleh jumhur ulama maupun mayoritas umat Islam. Islam adalah ajaran dan diin yang terang benderang, yang Allah menjamin setiap berita kebenaran Islam pasti dapat diakses dan tersampaikan pada setiap orang (QS 35:24). Sehingga merupakan hal yang aneh jika hal ini, jika memang benar datang dari Islam, hanya difahami oleh orang-orang ring dalam organisasi, namun tidak bisa difahami oleh anggota ring luar atau bertentangan dengan pemahaman mayoritas umat Islam di seluruh dunia selama 14 abad lamanya.

Tulisan ini mengkaji dan menelusuri dari berbagai sumber untuk mengetahui apakah praktek yang senantiasa disebut syahadat adalah praktek yang dibenarkan oleh Allah dan RasulNya.

Mengetahui kedudukan Ulama’

Rasulullah bersabda, “Setiap seratus tahun, Allah mengutus kepada umat ini seseorang yang akan memperbaharui diin ini (dari penyimpangan)”.1

Dalam Al Quran difirmankan bahwa, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat”. (QS 58:11)

Setiap seratus tahun hijriah, Allah akan menjadikan seorang mujaddid yang memperbaharui kebenaran pemahaman Islam serta membersihkannya dari penyimpangan yang terjadi di setiap zaman. Sebagian para mujaddid ini lahir dan hidup di setiap 100 tahun Hijriah. Di antara mereka adalah Umar bin Abdul Aziz (abad ke-1 H), Imam Syafi’i (abad ke-2 H), Imam Ghazali (abad ke-5 H), Ibnu Taimiyah (abad ke-7 H), Ibnu Hajar al Atsqalani (abad ke-8 H), Muhammad bin Abdul Wahhab (abad ke-12 H), Muhammad Abduh (abad ke-13 H), dan lainnya2.

Ulama adalah pewaris para Nabi. Untuk mendapat gelar al Hafizh saja harus menghafalkan Al Quran dan 200.000 hadits secara mutqin (benar-benar hafal tanpa terbata-bata), serta menguasai bahasa Arab secara fasih. Setiap ulama terdahulu memiliki ratusan guru dan memiliki sistem kontrol keabsahan ilmu yang kuat. Oleh karena itu tidak mungkin kita mengkaji ayat dan hadits tanpa menelusuri pendapat para ulama, terutama para ulama mujaddid ini. Sehingga dalam tulisan ini penulis merujuk kepada tulisan dan pendapat beberapa ulama mujaddid tersebut.

Setiap anak lahir dalam keadaan Fitrah dan di dalam Milah Islam, kecuali jika dirubah oleh orangtuanya.

Dalam organisasi tersebut, terdapat bunyi dari salah satu hadits yang diajarkan3 adalah sebagai berikut:

عَنْاَبِيْ هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللّٰه ص قَالَ اِنْسَانٍ تَلِدُهُ اُمُّهُ عَلَى الْفِطْرَةَ وَ اَبَوَاهُ بَعْدَ يُهَاوِدَانِهِ اَوْ يُنَصِّرَانِهِ اَوْ يُمَجِّسَانِه فَاِنْ كَانَ مُسْلِمِيْن فَمُسْلِمٌ ؟ كُلُّ اِنْسَانٍ تَلِدُهُ اُمّهُ يَلْكُزُهُ الشَّيْطَانٌ فِى حِضْنَيْهِ اِلَّا مَرْيَمْ وَ اَبْنَهَا

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah bersabda :Setiap manusia dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan fithrah, sesudah itu kedua orangtuanyalah yang meyahudikan, menasranikan, atau memajusikan. Maka bagaimanakah jika kedua orangtuanya muslim, apakah dia muslim? Setiap manusia yang dilahirkan ibunya, kedua bahunya sudah ditinju setan, kecuali maryam dan putranya.

Namun jika kita cek kembali redaksi hadits tersebut dalam Kitab 9 Imam, tidak ada hadits dengan redaksi yang sangat mirip atau sama persis dengan hadits di atas. Adapun yang penulis temukan mengenai lahir dalam keadaan fitrah ada di Syarh Shahih Muslim no. 4806, Ahmad no.8206 dan 15173, sedangkan mengenai disentuh setan kecuali maryam dan putranya ada di Ahmad no. 7383, 7540, 7574, 7906 dan Bukhari versi Fathul Bari no 4184.

Hadits yang sangat terkait dengan hadits di atas adalah hadits berikut:

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdan Telah mengabarkan kepada kami Abdullah Telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Az Zuhri dia berkata; Telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata; Rasulullah bersabda: ‘Seorang bayi tidak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi –sebagaimana hewan yang dilahirkan dalam keadaan selamat tanpa cacat. Maka, apakah kalian merasakan adanya cacat? kemudian beliau membaca firman Allah yang berbunyi: ‘…tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah.‘ (QS 30:30).4

Abu Hurairah menegaskan bahwa fitrah tersebut adalah fitrah Islam, berdasarkan QS 30:30. Jika ia berubah (dalam hadits lain dicontohkan misalnya telinganya disetrika), maka orangtuanyalah yang merubahnya. Hadits dengan redaksi yang sangat mirip dengan hadits di atas terdapat di puluhan hadits5, dan derajatnya seluruhnya shahih. Hadits shahih lain mengatakan,

Rasulullah bersabda, “Setiap anak dilahirkan di atas al millah, namun, kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani, atau menjadikannya seorang yang musyrik.”. Kemudian ditanyakanlah pada beliau, “Wahai Rasulullah, lalu bagaimanakah dengan yang binasa sebelum itu?” beliau menjawab, “Allah lah yang lebih tahu terhadap apa yang mereka kerjakan.6

Dari beberapa hadits di atas dapat kita simpulkan bahwa setiap manusia lahir di atas fitrah dan millah Islam, baik fitrah dan millah, keduanya mengacu pada Islam. Artinya setiap anak yang lahir maka dia berada dalam Islam, bukan makhluk yang tidak memiliki status apakah muslim atau non muslim.

Anak Kecil Mengikuti Diin/Agama Orangtuanya

Syaikhul Islam7 mengatakan, “Anak kecil yang kedua orang tuanya muslim, maka dia muslim mengikuti kedua orang tuanya, dengan sepakat kaum muslimin. Demikian pula ketika ibunya muslimah (sementara ayahnya kafir), dia mengikuti agama ibunya menurut pendapat mayoritas ulama seperti Abu Hanifah, as-Syafii, dan Ahmad.” (Majmu’ Fatawa, 10/437).

Ulama sepakat bahwa jika ada bapak yang masuk islam dan dia memiliki beberapa anak yang masih kecil atau keluarga yang seperti anak kecil – seperti orang gila – maka mereka dihukumi telah islam mengikuti ayahnya. Sementara mayoritas ulama (Hanafiyah, Syafiiyah, dan Hambali) berpendapat bahwa yang menjadi acuan islamnya anak adalah status islamnya salah satu dari orang tuanya. Baik ayahnya maupun ibunya. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 4/270).8

Anak Kecil yang lahir dalam keluarga Muslim Tidak Perlu Bersyahadat Kembali

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan dalam Dar’u at-Ta’arudh, bahwa kaum muslimin sepakat bahwa anak kecil ketika menginjak baligh sudah muslim, dia tidak wajib memperbarui syahadatnya setelah baligh. Ulama salaf dan para ulama setelahnya sepakat bahwa perintah pertama yang ditujukan kepada para hamba adalah dua kalimat syahadat. Mereka juga sepakat bahwa siapa yang sudah bersyahadat sebelum baligh, dia tidak diperintahkan untuk mengulang syahadatnya setelah baligh.

Jika seseorang terlihat secara zhahir telah melaksanakan shalat dan ajaran Islam lainnya, maka dia dihukumi sebagai orang muslim.

Rasulullah bersabda: “Barangsiapa shalat seperti shalat kita, menghadap ke arah kiblat kita dan memakan sembelihan kita, maka dia adalah seorang Muslim, ia memiliki perlindungan dari Allah dan Rasul-Nya. Maka janganlah kalian mendurhakai Allah dengan mencederai perlindungan-Nya.” (HR Bukhari 9, shahih)

Rasulullah bersabda: “Barang siapa melakukan shalat (seperti) shalat kami dan menghadap ke Kiblat kami, serta makan sembelihan kami maka dia adalah orang muslim.” (HR An Nasai10, shahih)

Al-Hâfizh Ibnu Hajar11 rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa manusia itu dihukumi sesuai zhahirnya. Barangsiapa menampakkan syi’ar (ajaran) agama (Islam), maka hukum-hukum pemeluk Islam diberlakukan padanya, selama tidak nampak sesuatu yang bertentangan dengannya.” [Fathul Bâri, syarah hadits no. 391]12

Sehingga, jika secara zhahir seseorang dalam kehidupan sehari-harinya sudah menunjukkan dia muslim, seperti sholat, memakai kerudung, mengaku sebagai muslim, maka tidak perlu dipertanyakan lagi atau diragukan lagi status hukum keislamannya. Tidak ada istilah “tidak dapat disebut” kemuslimannya. Tidak ada pula istilah “muslim sebenarnya”, atau “belum muslim yang sebenarnya”, atau ‘mu’min sebenarnya’ dan ‘bukan mu’min sebenarnya’ (tapi bukan kafir juga). Yang ada adalah muslim/mu’min atau kafir. Jika kita meragukan kemusliman dan kemu’minan seseorang, secara tidak langsung kita sudah mengkafirkan orang tersebut. Dan ini adalah praktek yang bertentangan dengan petunjuk Rasulullah dalam dalil-dalil shahih di atas.

Praktek syahadat tidak dicontohkan oleh Generasi Terbaik Islam: Shahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in

Seperti kita ketahui berdasarkan sabda Nabi bahwa Generasi Terbaik Islam adalah generasi pertama dan terdahulu, yaitu generasi shahabat, generasi tabi’in, dan generasi tabi’ut tabi’in. Jika memang syahadat bagi yang lahir dalam keluarga muslim adalah benar, maka seharusnya itu lazim dicontohkan oleh ketiga generasi tersebut. Jika memang seorang anak yang lahir dari keluarga muslim harus menegaskan keislamannya dengan bersyahadat, maka kejadian ini juga pasti diriwayatkan oleh banyak ulama. Mereka pasti memprioritaskan hal yang sangat penting ini. Namun kita tidak menemukan satu riwayat pun mengenai hal ini.

Rasulullah tidak pernah menarik syahadat dari Hasan dan Husein. Anak yang lahir pertama kali dalam islam adalah Abdullah bin Zubair, namun kedua orangtuanya (Zubair bin Awwam dan Asma binti Abu Bakar) mendorong Abdullah bin Zubair kecil untuk berbai’at, bukan bersyahadat.13

Sesuatu yang tidak dicontohkan oleh Nabi Muhammad adalah bid’ah, setiap bid’ah menuju kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.

Praktek syahadat juga tidak dicontohkan oleh Para Pejuang Islam terdahulu

Organisasi tersebut mengklaim merupakan penerus dan pemilik estafeta sah dari salah seorang pejuang islam di Indonesia yang sempat mendirikan daulah Islam di tanah Indonesia. Namun, tidak ditemukan di berbagai literatur sejarah yang penulis miliki, bahwa para mujahid daulah Islam Indonesia pernah menerapkan syahadat bagi seseorang yang lahir di keluarga dan lingkungan muslim. Adapun bentuk komitmen yang diterapkan oleh mereka adalah bai’at, bukan syahadat.

Bukti bahwa bai’atlah yang dipraktekan oleh mujahid Islam terdahulu dapat dilihat dalam kisah pengadilan Sanoesi Partawidjaja dan Ules Sudja’i14. Di sana tertulis bahwa Ules Sudja’i berbai’at sebagai mujahid. Bukan bersyahadat sebagai muslim. Begitu pula belum pernah ditemukan dalam tulisan-tulisan pemimpin daulah tersebut bahwa beliau membahas dan menjatuhkan vonis kafir atau belum berislam bahkan bagi para tentara dan pejabat republik yang menerapkan hukum selain Islam.

Apa yang difahami pada masa ini anggota organisasi tersebut sudah banyak berbeda dari pendiri organisasi itu sendiri. Dan sudah sangat menyimpang dari apa yang telah diajarkan dan dipraktekkan oleh Rasulullah ..

Praktek syahadat tidak harus berjabat tangan dan dapat diwakilkan

Ketika Nabi berhasil menaklukkan kota Mekah, banyak masyarakat di hamparan jazirah arab yang masuk Islam secara berbondong-bondong. Satu suku semua masuk islam, diwakili oleh pernyataan kepala suku. Itu terjadi sekitar tahun 9 dan 10 H. Sehingga tahun itu digelari ‘am al-Wufud (tahun kedatangan tamu). Sehingga tidak semua orang yang masuk islam, mengikrarkan syahadat di hadapan Nabi .. Bahkan banyak diantara mereka yang belum akrab dengan Nabi , dan beliau mengakui keislaman mereka.15

Dalam kondisi tertentu, pengumuman atas keislaman diri itu tidak mutlak harus dilakukan. Misalnya seperti yang dahulu dialami oleh Rasulullah dan para shahabat di masa awal dakwah, banyak di antara mereka yang merahasiakan keislamannya. Namun syahadat mereka tetap syah dan mereka resmi dianggap sebagai muslim.

Saat futuh mekkah, banyak orang Quraisy yang mengikrarkan syahadat dalam waktu bersamaan. Ini jelas, tidak mungkin Rasulullah (atau perwakilan beliau) memegang semua tangan orang Quraisy tersebut. Dalam acara da’wah yang dilakukan Dr. Zakir Naik pun, beliau tidak menjabat tangan orang yang bersyahadat untuk masuk Islam.

Pada hari ini pun bila ada seserorang yang karena pertimbangan tertentu ingin merahasiakan ke-Islamannya, maka dia sudah syah menjadi muslim dengan bersyahadat tanpa disaksikan siapapun. Dan sejak itu dia terhitung mulai menjadi muslim yang punya kewajiban shalat, puasa, zakat dan lain-lain.

Syahadatain tidak mensyaratkan harus dilakukan di depan saksi, imam, tokoh, kiayi atau ulama. Tanpa adanya kesaksian mereka pun syahadat itu sudah sah dan dia sudah menjadi muslim dengan sendirinya.16

Referensi:

1 Hadits Shahih Riwayat Abu Daud no. 3470, diakses melalui aplikasi Ensiklopedi Hadits.

2 Sebagian nama Mujaddid tersebut dapat diakses di https://en.wikipedia.org/wiki/Mujaddid

3 Diperoleh dari catatan penulis

4 Hadits Shahih Riwayat Bukhari versi Fathul Bari no. 4402, diakses melalui aplikasi Ensiklopedi Fiqih

5 Syarh Shahih Muslim 4806, Bukhari versi Fathul Bari 1270, 1271, 1296, 4402, 6110, 4901; lalu HR Abu Daud 4091 – seluruhnya shahih; lalu HR Ahmad 6884, 7387, 7463, 7832, 8739, 8949.

6 Hadits Riwayat Tirmidzi no. 2064, derajatnya shahih, diakses melalui aplikasi EnsiklopediHadits. Hadits yang sangat mirip redaksinya dapat ditemui di Muslim no. 4805, Ahmad no. 9851, 7133 dan 7132.

7 Biasanya istilah Syaikhul Islam merujuk pada Ibnu Taimiyah, yang merupakan ulama sekaligus mujahid terkenal yang lahir pada tahun 661 H (1263 M). Beliau disinyalir merupakan mujaddid abad ke 7 Hijriah. Ibnu Taymiyyah amat menguasai ilmu rijalul hadits (perawi hadits) yang berguna dalam menelusuri Hadits dari periwayat atau pembawanya dan Fununul hadits (macam-macam hadits) baik yang lemah, cacat atau shahih. Ia memahami semua hadits yang termuat dalam Kutubus Sittah dan Al-Musnad. (Sumber : Wikipedia)

8 Dapat diakses melalui https://konsultasisyariah.com/24907-wajib-mengulang-syahadat-ketika-baligh.html

9 HR Bukhari versi Fathul Bari no. 378, Shahih. Diakses melalui aplikasi Ensiklopedi Hadits

10 HR An Nasai nomor 4991, Shahih. Diakses melalui aplikasi Ensiklopedi Hadits.

11 Ibnu Hajar Al Atsqalani adalah ulama besar yang diduga sebagai mujaddid Abad ke 8 Hijriah. Beliau seseorang ulama besar madzhab Syafi’i, digelari dengan ketua para qadhi, syaikhul Islam, hafizh al muthlaq (seorang hafizh secara mutlak), amirul mukminin dalam bidang hadits dan dijuluki syihabuddin. Guru beliau mencapai lebih dari 640 orang. (https://kisahmuslim.com/1255-ibnu-hajar.html)

12 Dapat diakses melalui https://almanhaj.or.id/4722-wajibkah-mengulangi-syahadat-dihadapan-imam.html

13 Syarh Shahih Muslim no. 3998, terdapat di catatan penulis dan dapat diakses pula melalui Ensiklopedi Fiqih

14 Irfan S. Awwas, Kesaksian Pelaku Sejarah Darul Islam (DI/TII), halaman 244 dan 246.

15 Penulis belum sempat mencari kebenarannya langsung, namun ini adalah perkataan Ust Ammi Nur Baits yang dapat diakses melalui https://konsultasisyariah.com/24907-wajib-mengulang-syahadat-ketika-baligh.html

16 Keterangan dari Ust. Ahmad Sarwat

You may also like...

No Responses

  1. July 17, 2019

    […] Tulisan ini merupakan kelanjutan dari sini. […]

  2. July 17, 2019

    […] ini merupakan lanjutan dari ini dan […]

  3. July 17, 2019

    […] ini merupakan akhir dari tiga tulisan sebelumnya, yaitu ini, ini, dan […]

Leave a Reply

Your email address will not be published.