Bai’at atau Syahadat?

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari sini.

Bai’at dan Syahadat memiliki definisi dan konsekuensi yang sangat berbeda

Syahadat adalah gerbang keislaman dan ikrar keimanan, persaksian atau pengakuan terhadap Allah sebagai Rabb dan Nabi Muhammad sebagai Rasulullah . Konsekuensi syahadat adalah menjadi muslim, maka sebelumnya adalah non-muslim.

Sedangkan bai’at adalah:

  • Janji setia yang diberikan rakyat muslim kepada khalifah untuk melaksanakan Al Quran dan As Sunnah.

  • Lafadz setia dan kontrak politik yang diberikan para shahabat kepada Rasulullah, melindungi perjuangan beliau dalam menegakkan negara Islam di Yastrib.

  • Konsep bai’at ini juga yang dipraktekkan para shahabat kepada setiap Khalifah terpilih.

  • Konsekuensi bai’at bukan keimanan tapi kesetiaan dan loyalitas politik (al-wala’), lahir maupun batin, taat kepada penguasa yang memimpin secara de jure dan de facto untuk menerapkan syariat Allah.

  • Secara bahasa, menurut Ibnu Al Atsir, bai’at adalah ungkapan tentang perjanjian, seperti salah seorang dari keduanya menjual barang yang ada di sisinya dari pemiliknya lalu ia memberikannya dengan jiwa yang ikhlas, tunduk, dan sepenuh jiwa.1

  • Secara istilah, menurut ibnu khaldun, “Bai’at adalah janji untuk taat. Seperti seorang yang membai’at membuat ikrar kepada amirnya agar urusan ia dan kaum muslimin diserahkan kepadanya tanpa ada yang menyelisihinya dalam perkara tsb. Ia mentaatinya dalam perkara yang dibebanlan, baik dalam hal yang menyenangkan atau yang dibenci. Mereka jika memabai’at seorang amir dan berakad dengannya, mereka menjadikan tangan mereka bersalaman dengan amir sebagai penegas perjanjian. Hal tersebut menyerupai perbuatan penjual dan pembeli, sehingga bai’at bersanding dengan salaman menggunakan tangan” 2

Sehingga, kata bai’at secara bahasa ataupun istilah tidak menujukkan makna syahadat sama sekali.

Dalam hadits lain, Rasulullah menolak bai’at seorang anak kecil yang belum baligh.

عَنْ زُهْرَةَ بْنِ مَعْبَدٍ، عَنْ جَدِّهِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ هِشَامٍ، وَكَانَ قَدْ أَدْرَكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَذَهَبَتْ بِهِ أُمُّهُ زَيْنَبُ بِنْتُ حُمَيْدٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَتْ: يَارَسُولَ اللَّهِ بَايِعْهُ، فَقَالَ: “هُوَ صَغِيرٌ فَمَسَحَ رَأْسَهُ وَدَعَا لَهُ

“Dari Zahrah bin Ma’bad dari kakeknya Abdullah bin Hisyam, dan ia pernah bertemu dengan Nabi . Ibunya Zainab binti Humaid pergi ke Rasulullah lalu berkata : bai’atlah ia. Rasulullah menjawab : “dia masih kecil, lalu beliau mengusap kepalanya serta mendoakannya”3

Imam Nawawi mengatakan dalam Syarah Shahih Muslim bahwa maksud bai’at di sini adalah bai’at untuk keberkahan dan kemuliaan, bukan bai’at taklif.4

Bai’at dan Syahadat memiliki konsekuensi yang berbeda. Syahadat berkonsekuensi pindahnya dari non-Islam menjadi Islam, sedangkan Bai’at adalah kontrak politik dari ketidaksetiaan menjadi kesetiaan serta ketaatan. Dalam perjuangan Nabi sendiri, jelas bahwa bai’at yang dilakukan pertama kali oleh Nabi Muhammad adalah Bai’at Aqobah 1, dan itu bukanlah syahadat. Sedangkan persaksian keislaman yang dilakukan para shahabat di Mekah dan di Madinah, adalah Syahadat. Sehingga dalam praktek harus dipisahkan jelas, apakah itu syahadat atau bai’at, karena konsekuensi dari keduanya sangat berbeda.

Referensi:

1 Diperoleh dari penjelasan Ust. Robi Pamungkas pengajar di Mahad Al-Abqary dan Khadimus Sunnah Bandung

2 Diperoleh dari penjelasan Ust. Robi Pamungkas pengajar di Mahad Al-Abqary dan Khadimus Sunnah Bandung

3 Hadits Riwayat Abu Daud no. 2553, derajatnya shahih. Terdapat pula di Bukhari no. 2320 dan 6670, Ahmad no. 17354; diakses melalui aplikasi Ensiklopedi Hadits.

4 Diperoleh dari penjelasan Ust. Robi Pamungkas pengajar di Mahad Al-Abqary dan Khadimus Sunnah Bandung

You may also like...

No Responses

  1. July 17, 2019

    […] Tulisan ini merupakan lanjutan dari ini dan ini. […]

  2. July 17, 2019

    […] ini merupakan akhir dari tiga tulisan sebelumnya, yaitu ini, ini, dan […]

Leave a Reply

Your email address will not be published.