Belajar dari Drakor Start-Up Eps 1-10


Bismillah. Saya bukan penggemar drakor sebenarnya, tapi karena judulnya “Start-Up” dan bidangnya AI (Artificial Intelligence), jadi saya merasa sepertinya bisa belajar banyak dari film ini. Dan jadilah, ini drakor pertama yang saya tonton seumur hidup (seingat saya) hehe.

Dan ternyata alhamdulillah, lumayan banyak pelajaran yang saya dapat. Berikut ini di antaranya:

1. Salah paham adalah hal yang wajar.

Han Ji Pyeong pernah salah faham dengan Bu Choi. Alhamdulillahnya Bu Choi bisa menyikapi dengan bijak, sehingga salah faham bisa diselesaikan dengan baik, bahkan hubungan mereka lebih erat. Kalau sebaliknya, salah faham dilanjutkan dengan saling menghakimi, hubungan keduanya malah akan putus.

2. Terkadang, seseorang ingin dihargai bukan dengan uang.

Ini terjadi saat Nam Do San yang tidak ingin dibayar pakai uang. Jika dibayar dengan uang, malah merasa tidak dihargai. Ini pernah juga terjadi waktu saya berhubungan dengan teman saya. Teman saya ternyata lebih merasa dihargai ketika tidak dibayar. Harus pintar-pintar mengenal orang.

3. Lebih baik investasi di usaha yang sudah berjalan.

Bagi investor, lebih baik investasi di usaha yang sudah berjalan dan sudah terlihat ‘pola’ bisnis dan karakter foundernya, jangan investasi di usaha yang baru mulai.

4. Apapun karaktermu, itu OK kok.

Nam Do San adalah orang yang karakternya kurang peka dan terlalu matematis. Menghubungkan segala sesuatu dengan matematika dan logika. Kurangnya, Nam Do San kikuk dalam membawahakan diri, tidak bisa bersosialisasi dan mempresentasikan diri. Ditambah lagi, Nam Do San polos dan kurang peka. Suka ngomong yang aneh dan bikin orang kabur.

Hehe melihat karakter Nam Do San, ada beberapa yang mirip dengan saya. Kebetulan sama-sama pernah ikut olimpiade matematika juga. Sering saya merasa ‘salah’ dan ‘kurang’ dengan karakter seperti ini. Kikuk dan kaku kalau berhubungan dengan orang lain. Tapi setelah lihat Nam Do San, apapun karakter kita, itu OK. GAPAPA. Insya Allah kita bisa berkembang asalkan menemukan ekosistem dan komunitas yang mendukung dan melejitkan potensi kita, bukan fokus pada kekurangan kita dan terus menyalahkan kita.

5. Semua perasaan dan uneg-uneg tidak perlu diungkapkan.

Ini pelajaran buat saya banget. Kondisi akan lebih baik jika kita pikir-pikir dulu sebelum bicara. Semua rasa sakit hati, tersinggung, dongkol, prasangka buruk, lebih baik tidak diucapkan.

6. Sikap profit-oriented bagi sebuah start-up seperti minum air laut di tengah laut. Cepat mati.

Di awal-awal pembangunan startup, seharusnya jangan cepat-cepat ambil profit dan ambil biaya operasional dari klien terlalu besar. Seharusnya membuat orang merasakan manfaatnya dulu, membangun market dulu. Jual murah dulu.

7. Saham start-up jangan dibagi rata.

Nah ini PELAJARAN TERPENTING yang saya dapat dari film ini. Membagi saham sama rata sama saja dengan bunuh diri. Jika ada satu orang – dan orang itu bukan key person – tiba-tiba hengkang dari perusahaan atau membuat kebijakan sepihak, perusahaan bisa hancur seketika. Begitu nasihat Han Ji Pyeong.

Menurut film ini, harus ada key person yang memiliki mayoritas saham perusahaan. Key person adalah orang kunci yang paling mempengaruhi keberjalanan perusahaan. Enggak ada dia, perusahaan tidak akan berjalan. Menurut film Start-up, >80% saham harus diberikan kepada orang kunci. JANGAN BAGI RATA.

8. Sebagai CEO ataupun sebagai manusia, apapun keputusan kita bakal ada yang mencela.

Harus siap membuat keputusan dan apapun konsekuensinya. Tidak ada waktu yang sempurna, jangan terlalu lama menunggu. Harus siap dicela orang. Kita tidak bisa membahagiakan semua orang.

9. Viral marketing lewat sosial media itu penting.

Nah ini juga pelajaran penting dan saya sangat setuju. Jaman sekarang, akan sulit maju dan scale-up jika hanya mengandalkan mulut ke mulut. Bagi orang biasa seperti kita, teman kita yang benar-benar kenal kita mungkin hanya 300 orang, yang percaya kita mungkin hanya 40-60 orang. Jika kita bukan influencer atau orang penting, marketing dengan kekuatan mulut sendiri akan sangat terbatas. Kalah lah dengan yang pakai digital marketing.

10. Harus hati-hati banget dalam bersikap ke orang kaya, pejabat, atau orang yang merasa tinggi.

Selain dari film start-up, ini juga pelajaran yang saya dapat di 6 bulan belakangan ini. Orang kaya atau pejabat, biasanya mudah sekali tersinggung. Harga dirinya tinggi sekali. Sehingga harus hati-hati sekali bersikap dan berbicara dengan orang-orang seperti ini. Ohiya, orang-orang berharga diri tinggi ini bukan selalu orang kaya atau pejabat, bisa jadi orang yang menganggap dirinya tinggi dan merasa bisa melakukan apapun dengan kekuatan dirinya.

Cari waktu dan kondisi yang tepat sebelum memberi saran.

11. Amatir merespon dengan perasaan, Profesional merespon dengan data dan logika.

Ini komentar dari seorang Ibu pendiri Sand Box (saya lupa namanya), dan menurut saya ngena. Pelajaran bagi saya dalam mencari partner kerja selanjutnya, harus lebih hati-hati lagi. Sulit sekali berpartner dengan orang yang terlalu cepat mengambil keputusan berdasarkan feeling atau pendapat pribadi tanpa mempelajari data dan fakta lengkap terlebih dahulu.

12. Pertanyaan Investor yang akan muncul sebelum investasi di start-up.

Apakah startup sudah ada penghasilan?
Bagaimana cara startup memperoleh pendapatan?
Apakah sudah ada hak paten dari teknologi yang dipakai?
Bagaimana BEP dan proyeksi pembiayaannya?
Pasar dan target marketnya di mana?
Apa senjata andalannya?
Ada pesaing? Bagaimana menghadapi pesaing?

13. Dunia startup dan entrepreneurship bukan untuk semua orang.

Betul terasa sekali. Saya belum menjadi pelaku start-up sejati. Tapi pernah merintis usaha kecil-kecilan sejak SD, SMA, kuliah dan sekarang hehe. Tidak semua orang mau bersusah-susah investasi di awal dalam waktu yang cukup lama. Kebanyakan orang pingin langsung dapat hasil.

Banyak yang berpikir bahwa yang paling penting dari seorang pengusaha adalah link, koneksi dan sosialisasi. Sehingga orang dengan mudahnya menghakimi orang ini cocok jadi pengusaha, orang ini tidak cocok jadi pengusaha, cocoknya jadi ilmuwan. Ternyata tidak. Menurut teman saya pendiri japanesia.net, yang paling penting adalah kemampuan dan kebiasaan yang baik. Juga sifat tahan banting.


Di dramanya sendiri memang banyak drama percintaannya. Dan mungkin pelajaran tentang start-upnya tidak sebanyak drama percintaannya hehe. Waktu yang dibutuhkan untuk menonton semua episode relatif terlalu panjang, sekitar 160 jam. Waktu yang sebenarnya bisa lebih bermanfaat jika digunakan untuk hal yang lain…

Wallahu a’lam, semoga bermanfaat!

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.