Birth Journey of Misykah – Fetal Distress

Birth Journey of Misykah – Fetal Distress, Caesarean, Infection.

Assalamualaikum.

Kali ini, saya akan bercerita tentang anak kedua kami yang lahir dengan proses SC yang lumayan berdrama. Sudah lama ingin menulis dan publish, tapi baru kesampaian sekarang. Berikut ini rangkaian kejadian yang sempat tercatat. 

Ikhtiar yang dijalankan

Agar bisa normal, saya berusaha rutin jalan kaki 30-40 menit setiap hari, juga mengaja asupan agar anak tidak terlalu besar. Ikhtiar untuk kelahiran anak ini yang paling maksimal dan sungguh-sungguh dibandingkan anak lainnya.

30 Jul 2018

Sudah 40w6d, namun belum ada tanda-tanda akan lahiran. Kebetulan hari itu ada jadwal kontrol dengan SpOG, yaitu ibu dokter dengan inisial Dr. SO yang praktik di RS. Hermina Daan Mogot Jakarta. Karena sudah lebih dari 40 minggu, Dr. SO menyarankan untuk rawat inap aja dan rutin cek CTG.

  • 17:30, bukaan 2 tebal, CTG bagus, diminta langsung rawat inap.
  • 20:00, bukaan 2 tebal, pasang jarum infus di tangan. Saya lupa sudah masuk infus induksi atau belum. Sepertinya belum, karena besoknya saya masih jalan-jalan.
  • 23:00 , bukaan 2 tebal tapi sudah lunak, tensi OK.

31 Jul 2018

  • 08:00, CTG, DJJ (detak jantung janin) sempat turun, dikasih oksigen dan disuruh tidur miring ke kiri. DJJ kembali normal, tensi OK, bukaan masih 2 tebal lunak. Ikhtiar Jalan kaki 1 jam-an.
Hasil CTG jam 7 pagi
Hasil CTG jam 8 pagi
  • 13:00, keluar mucus plug coklat. Mulai mensugesti diri. Naik turun tangga sebanyak mungkin, squat sebanyak mungkin sampai capek.
  • 15:00 mucus plug merah-pink banyak!! ^^ CTG lagi, cek tensi dan cek bukaan lagi. Tensi 130/80, DJJ tinggi sampai 150-170 tapi masih bukaan 2, kali ini sudah mulai tegang, ya Allah….
Hasil CTG jam 15 sore
Hasil CTG Jam 17 sore, kontraksi rahim semakin teratur dan kuat, DJJ mulai tidak stabil.
Hasil CTG jam 18-19 malam. Kontraksi rahim sudah kuat, DJJ kadang di bawah 120, kadang di atas 160.
  • 18:30 Karena DJJ sempat terdeteksi tinggi, dokter menyarankan SC. Saat ini sy masih ingin normal, jadi masih ingin berunding dulu dengan keluarga. Kami cari second opinion ke dr. Katrina, dan dr. Katrina juga menyarankan SC! Suami udah positif SC aja, sementara saya masih ingin normal. Setidaknya ingin induksi dulu atau menunggu dulu sampai datang tanda-tanda berikutnya.
  • 20:30 Telepon Mama dan Wulan, minta pendapat bagaimana baiknya. Saat telepon itu, ketuban pecah. Bidan cek bukaan dan ternyata bukaan naik jadi 3. Cek kejernihan ketuban, alhamdulillah jernih. Lama-lama datang gelombang kontraksi kuat banget tidak tertahankan, sementara masih pasang CTG.  
  • 21:00 Mulai mules-mules, sambil terus dipasang CTG sampai 22:30 –> DJJ terdeteksi menurun sampai CTG kasih warning. Dr. SO tiba-tiba pergi tidak bisa menangani karena ada operasi urgent di tempat lainnya, digantikan dengan suami Dr. SO yang praktik di RS yang sama. Oh tidak…..
  • 22:11an. Ditawarin SC lagi!! Mules semakin kuat… Suami Dr. SO bilang bayi terlalu besar, pinggul kecil, kepala masih terlalu di atas, dan akan lama. Udah bukaan 7 padahal T_T (tapi dokternya nggak bilang, ini baru diketahui di rekam medis beberapa hari setelah SC)
  • 22.20an, masih mules-mules dan DJJ janin masih tidak stabil. Suami akhirnya memutuskan SC. Yaudah nurut suami dan pasrah kpd keputusan Allah.
  • 23:00 Misykah lahir dengan proses SC. Selama operasi SC, kok suami dr. SO ketawa-ketawa ya? Akhirnya Misykah lahir dengan berat 3.5 kg, menangis. Misykah tidak terlalu berat, dan kondisi bayi juga tidak seburuk yang kami bayangkan. Sebelumnya penjelasan dokter membuat kami kawatir anak akan masuk NICU jika tidak SC.

Pasca SC, 1 Aug 2018

Waktu lahiran dulu sedih karena SC, tapi kalau sekarang lihat-lihat lagi bayi Misykah, Alhamdulillah seneng. Hehe
  • Pasca SC, menangis dan sedih karena sudah berusaha ingin normal tapi gak bisa. Lahiran anak, bukannya senang, tapi malah nangis-nangis hehe. Semoga luka di rahim saya menjadi saksi atas beratnya jihad untuk taat kepada suami T_T
  • Luka SC sakit banget, geser badan dan puter badan aja suakiittt nggak bisa. Nggak boleh bangun dan nggak boleh ngapa2in. Nyusuin Misykah sambil tiduran dibantu suami.
  • Dikasih infus, obat berbagai macam, obat yang ditaruh di anus untuk pereda rasa sakit. Ganti pembalut harus dibantu suster. Ganti popok misykah juga dibantu suster
  • Visit dr. SO. Aku tanya sebelum SC sudah bukaan berapa? Katanya sudah bukaan 6. Kaget ternyata udah banyak. Katanya kemungkinan ketuban habis dan kompresi tali pusat. Dr. SO mengatakan ini gawat janin (fetal distress), jadi dia ngga berani ambil resiko. Setelahnya, saya nangis lagi kenapa harus ditakdirkan SC T_T
  • Masih batuk, astagfirullah setiap batuk lukanya terasa sakit banget

2 Aug 2018

  • Sudah boleh bangun.
  • Kateter dilepas, mulai jalan-jalan walau masih suakiit. Tapi jauh berkurang dibanding H+1.
  • Puter badan kanan kiri sudah agak bisa tapi masih dibantu. Masih pakai obat yang ditaruh di anus.
  • Dr. SO nggak datang, jadi diganti visit dr Rully. Subhanallah, lembut dan mengayomi banget. Dikasih obat batuk.
  • Batuk berkurang, sayangnya obat batuk cuma dikasih 2×1 hari

3 Aug 2018

  • Sudah bisa jalan-jalan lagi dan coba tanya kapan pulang. Yang memutuskan pulang adl dr. SO dan menunggu beliau praktek dulu jam 16-18..
  • Menunggu.. menunggu.. sampai jam 20, masih menunggu Dr. SO yang tidak kunjung datang. Sampai akhirnya ada kabar kalau beliau tidak datang karena harus pergi untuk operasi sitto yaitu operasi yg harus dilakukan segera di RS lain. Saat itu rasanya kecewa sekali pada Dr. SO.
    Setelah itu menunggu dokter jaga yg menggantikan dr. SO, yaitu dr. Suciana yg hadir sekitar jam 22.30.
  • Perban diganti, dan sudah boleh pulang. Pulang naik grab bareng Mama.
  • Alhamdulillah ada Mama yang bantu-bantu mengangkat tas-tas… Makasih Mama…

4 Aug 2018, Senin

Baby Misykah sudah di rumah.

5 Aug 2018, Minggu

  • Saya mulai mengerjakan beberapa pekerjaan domestik
  • Mama masih bantu mengerjakan pekerjaan domestik tapi mulai kubantu..

6 Aug 2018, Senin

  • Mas Syafa mulai berangkat kerja. Faqih dipegang pengasuh. Aku masih nggak nyaman beraktivitas, jadi masih tiduran di rumah
  • Abah Umi Semarang (mertua) datang ke rumah….. Aku cerita ttg proses persalinanku yang sebenarnya bisa normal. Tapi kata Abah Umi, “Gapapa, kan jaman sekarang banyak yg sesar. Kan supaya anak dan Ibunya sehat.” Plong rasanya, mertua tidak menghakimi, kok diri sendiri sibuk menghakimi diri sendiri.
  • Malam, kontrol Misykah, 3.7 kg, 51 cm. Masya Allah naik 0.2 kg..

7 Aug 2018, Selasa

Bantu-bantu Umi (mertua) masak utk sehari. Siang bobo. Pakai gurita postpartum.

8 Aug 2018, Rabu

  • Masak-masak sendiri, banyak tiduran sambil baca buku Alfatih 1453
  • Rabu malam: kok keluar cairan bening agak kuning, dan agak kecoklatan atau kemerahan banyaak sekali sampai baju basah.
  • 21:00 ke IGD, ternyata keluar cairannya dari dalam perut, melalui lubang di jahitan SC yang jumlahnya beberapa lubang. Astagfirullah.
  • Waktu itu ditawarkan mau mulai rawat inap atau memilih dirawat sendiri? Kami pilih rawat sendiri di rumah dan berencana besoknya ke dr. SO lagi. Rawat di rumah boleh asalkan perban diganti 4 jam sekali.
  • Sebelum ke SPoG, harus cek darah (albumin, hematologi rutin, gula darah). Berencana besok juga tes darahnya.

9 Aug 2018

  • Mas Syafa ambil cuti lagi utk merawat lukaku 4 jam sekali. Sebelum ke RS, nanahnya terlihat berkurang
  • Bedrest di rumah.
  • Sore, ke RS, siap2 kalau harus rawat inap. Sebelum ke SPoG ambil darah untuk dites dan ternyata… dr. SO berhalangan hadir. Saat itu kami sudah sangat kecewa dengan dr. SO dan tidak respek lagi dengan beliau.
  • Akhirnya pindah ke dr. Rully, dr. Rully cek luka dan masih bernanah banyak. Menurut beliau sepertinya lukanya nggak dalam, hanya di lapisan lemak aja. Nanah dikeluarkan, sample nanah diambil utk dikultur. Harus rawat inap dengan resep obat dr dr.Rully
  • Kembali dirawat di rumah sakit.
  • Badan mulai meriang dan pusing-pusing, tanda infeksi luka operasi.

10 Aug 2018

  • Di RS, begadang menyusui Misykah yang tidak kunjung tidur sampai jam 2.
  • Di RS ditemani Abah dan Umi.
  • Pagi, meriang sudah hilang. Siang, meriang lagi pusing-pusing. Astagfirullah…
  • Dr. SO datang, menurut beliau, lukanya nggak parah, antibiotik harus 2 hari masuk dr infus. Jadi minimal 2 hari di RS, setelah itu boleh pulang…

11 Aug 2018

Tanggal 11 Agustus 2018, akhirnya acara syukuran aqiqah dilaksanakan di rumah sakit.

Cukur rambut di rumah sakit.
Acara syukuran aqiqah di rumah sakit.

Pulang dari RS, pasca infeksi

Setelah pulang, kami kontrol terakhir dengan SpOG

  • Kami ambil hasil kultur lab, dan kami konsul ke SpOG lainnya lagi (lupa siapa namanya). Ternyata, bakteri yang ada di nanah adalah bakteri yang common ada di rumah sakit.
  • Berarti, infeksi kemarin adalah infeksi disebabkan operasi SC yang dilakukan dgn kurang higienis.
  • Jika berniat normal, sebenarnya ada skema di mana bisa diusahakan normal sambil disiapkan operasi. Sayangnya waktu itu sudah terlanjur diarahkan SC. Jadi langsung disiapkan meja operasi tanpa berusaha lahiran normal.

Setelah SC ini, banyak kekecewaan yang dialami, yaitu:

  • Saya sangat ingin dibantu oleh tenaga medis perempuan, tapi ternyata dr. SO menyerahkan saya ke suaminya untuk dibantu persalinannya.
  • Suami dr. SO sempat mengatakan bahwa bayi besar dan pinggul kecil. Klaim yang sebenarnya tidak terbukti. Bayi lahir dengan berat 3.5 kg, menangis. Tidak mungkin pinggul kecil karena sebelumnya pernah lahiran pervaginam.
  • Suami dr. SO juga mengatakan bahwa bukaannya belum bertambah dan bayi masih di atas, padahal di rekam medis bukaan sudah bukaan 7 dan gelombang kontraksi sudah sangat kuat.
  • Infeksi disebabkan karena operasi SC dilakukan dengan kurang higienis.
  • Dr. SO yang sibuk sekali sehingga kurang memperhatikan pasien. Bahkan berkali-kali kami harus cari dokter pengganti.

Pelajaran yang diambil

  • Pandangan suami dan istri harus sama terkait proses kelahiran yang diinginkan.
  • Jika memang ingin normal, harus mencari tenaga medis yang benar-benar pro normal dan perhatian pada pasien. Ini tidak terdeteksi di kontrol awal kehamilan. Baru terlihat saat lahiran ternyata dr. SO sangat mudah memutuskan SC.
  • Semaksimal apapun berusaha, tetapi hasil ditentukan oleh Allah. Kita tidak bisa apa-apa kalau Allah sudah berkehendak.
  • Belajarlah menekan keinginan pribadi utk menerima keinginan Allah.

Demikian tulisan kali ini. Tulisan ini ditulis agar bisa dikenang di masa depan (soalnya saya pelupa). Semoga bermanfaat juga bagi yang membaca.

You may also like...

3 Responses

  1. November 21, 2021

    […] Di kehamilan sebelumnya, saya merasa ikhtiar untuk lahiran normal sudah sangat maksimal semampu saya. Tapi hasilnya mengecewakan dan meninggalkan trauma. Rasanya kok untuk apa susah-susah usaha, toh hasilnya tidak linear dengan usaha yang diberikan. […]

  2. November 25, 2021

    […] ke Tangerang dengan pesawat. Sampai rumah sekitar isya pukul 20:00. Ternyata, saat itu, saya sudah hamil 3 minggu tanpa saya […]

  3. November 27, 2021

    […] lahiran anak kedua saya, saya berusaha banget untuk bisa lahiran normal. Usaha maksimal saya kerahkan, dari mulai […]

Leave a Reply

Your email address will not be published.