Birth Story of Najmi – VBAC Experience

Assalamualaikum.

Kali ini, saya ingin bercerita tentang kelahiran anak ketiga saya dengan proses VBAC (Vaginal Birth After Caesarean).

Program Hamil

Awalnya, kami program hamil di sekitar bulan Juni atau Juli 2020 dengan asumsi langsung jadi (karena kakak-kakaknya juga begitu, kepedean astagfirullah). Tapi ternyata butuh waktu sekitar tiga bulan sampai jadi. Alhamdulillah 19 Oktober jadi HPHT di program hamil kali ini.

Hampir Putus Asa atau Kecewa pada Allah

Di kehamilan sebelumnya, saya merasa ikhtiar untuk lahiran normal sudah sangat maksimal semampu saya. Tapi hasilnya mengecewakan dan meninggalkan trauma. Rasanya kok untuk apa susah-susah usaha, toh hasilnya tidak linear dengan usaha yang diberikan.

Jadi selama kehamilan ketiga ini, saya malah kerjanya rebahan dan banyak tidur di 7 bulan pertama. Mau olahraga kok rasanya malas. Untuk apa usaha keras-keras. Logika bilang “jangan gitu santi, jangan putus asa sm rahmat Allah”. Tapi perasaan susah kompromi untuk ikut logika hehe. Rasanya tidak ada semangat lagi untuk berusaha lahiran normal.

Walaupun dr. SpOG yang kami hubungi adalah dokter di Tangerang yang terkenal bisa menangani VBAC, yaitu dokter Hasta yang praktek di RS. Hermina Tangerang; tapi rasanya tidak semangat aja. 

Akhirnya ikhtiar yang dilakukan seadanya aja, yaitu naik turun tangga. Itu pun hanya sekitar 10-15 menit aja setiap hari di bulan terakhir kehamilan.

Dokter SpOG Tidak Optimis Bisa Normal

Setiap kontrol dengan dokter, kami selalu mengkonsultasikan apakah bisa lahiran VBAC. Namun dokter selalu bilang “Lihat nanti ya Bu..”.

Di minggu-minggu terakhir kehamilan, dokter cek apakah bayinya sudah turun atau belum, dan juga bagaimana posisi bayi. Nah di minggu-minggu terakhir itu, posisi bayi masih di atas. Mukanya juga dongak ke atas (idealnya ke bawah). Sampai dokter bilang “kalau sebelum lahiran masih di atas, kayaknya susah normal Bu”. “Ini mukanya dongak ke atas. Kalau posisinya gini, akan susah normal Bu”. Apalagi setelah dokter tahu bahwa bayinya terlilit tali pusar dua kali, beliau semakin tidak berani.

Nampaknya dokter tidak optimis bahwa bisa lahiran normal. Akhirnya kami cari alternatif lain, yaitu bidan. Saya cari-cari, akhirnya bertemu seorang bidan senior, yang tidak ingin disebut namanya, yang praktek di kliniknya sendiri, Dzakira Mom and Baby Tangerang.

Filosofi Kelahiran dari Bidan

Di Bidan, saya dan suami disarankan untuk mengikuti semacam pelatihan, namanya SBC (Smart Birth Class) agar suami dan istri punya persepsi yang sama terhadap proses kelahiran. Berikut ini beberapa poin yang diberikan pada pelatihan tersebut: 

Di SBC, ditekankan bahwa yakinlah bahwa Allah yang menciptakan jalan lahir, maka pasti bayi itu mampu keluar dari jalan lahir tersebut.

Sejak SBC itu, saya jadi yakin bahwa Allah-lah yang menciptakan rahim dan jalan lahir, jadi Allah-lah yang menjamin pasti bisa lahir sesuai tujuan penciptaannya. Kalau sudah diciptakan jalan lahir, kenapa masih membuat pintu lahir sendiri?

Tuhan tidak mencitakan jendela di perut,
tapi Tuhan mencipakan pintunnya”.

Robin Lim

Sejak SBC juga, sy jadi lebih menghubungkan segala sesuatu terkait kelahiran ini dengan kuasa Allah. Misal, yang membuka jalan lahir adalah Allah, yang menggerakkan otot-otot rahim, adalah Allah. Yang menjaga bayi tetap sehat dalam rahim juga adalah Allah.  

Di SBC juga ditekankan bahwa yang mengetahui apa yang ada di dalam rahim hanyalah Allah. Dokter melalui USG memang bisa melihat beberapa indikasi, misalnya ada dugaan anak itu terlilit tali pusar atau ada dugaan bb janin terlalu besar atau kecil. Tp dokter hanya menduga, yang punya pengetahuan mutlak atas apa yang ada di rahim kita adalah Allah. 

Jadi, kalau ada dugaan-dugaan atas kondisi bayi dalam rahim yang membuat kita khawatir, maka serahkan dan berdoalah kepada Allah.

Sabtu 24 Juli, 39w5d

Hari Sabtu adalah hari dijadwalkan kontrol. Hari itu kami kontrol ke dokter dan bidan.

Dokter melihat ada lilitan tali pusar 2 kali, dan tidak optimis bisa normal. Setelah SBC kami semakin mantap untuk lahiran di bidan aja. Ditambah lagi saat itu lagi puncak-puncaknya pandemi, ruang ICU RS berdesak-desakkan sampai keluar RS pakai tenda, sehingga kami menempatkan dokter dan RS sebagai second plan. First plannya lahiran di bidan.

Di bidan, dicek USG juga bukaan. Ternyata sudah bukaan 1.5 tebal. Bidan lalu melakukan membrane stripping. Bidan setelah itu bilang bahwa kemungkinan besok sudah lahir. Tapi saya belum percaya hehe. 

Malam-malam, rahim terasa kontraksi konstan (belum bergelombang), seperti sakit haid. Suami bilang, mau berangkat aja ngga ke klinik bidan? Karena saya kawatir kontraksi palsu dan nggak pede lahiran cepat, jadi lebih pilih di rumah dulu aja dan tidur seperti biasa setelah menidurkan anak-anak. 

Minggu 25 Juli, dini hari

Jam 02.00 pagi, seperti biasa ibu hamil besar selalu beser kalau tengah malam. Jadi seperti biasa saya bangun karena kebelet, dan pipis. Lalu tiduran lagi.

Saat tiduran, saya berguling ke kanan ke kiri. Lalu ada terasa “Tss…”, ada yang pecah di dalam perut. Apa mungkin pecah ketuban Tapi karena dari jalan lahir nggak keluar apa-apa, jadi diabaikan aja dan tiduran lagi.

Beberapa saat setelah itu, mulai terasa kontraksi bergelombang. Dan makin lama kontraksi bergelombangnya semakin kuat. Langsung buka aplikasi kontraksi dan mulai klik tombol di aplikasinya setiap terasa kontraksi. Setelah itu mulai remas-remas tangan suami setiap terasa kontraksi.

Suami bangun dan ke kamar mandi. Setelah suami keluar dari kamar mandi, saya bilang ke suami bahwa kontraksinya mulai teratur, dan lalu saya duduk. Nah pas duduk itu ternyata keluar cairan agak banyak dari jalan lahir dan sudah yakin aja memang pecah ketuban.

“Mas, pecah ketuban”.

Suami langsung melongo, “Yaudah, berangkat”.

Aku pakai homedress dari Zyskuxena, pakai popok dewasa (supaya rembesan ketubannya nggak ke mana-mana), dan pakai kerudung. Suami siapin cendol, bikin mie, bawa bekal. Kenapa cendol? Karena saya suka cendol. So sweet ya. 

Makin lama, kontraksi makin kuat dan saya udah ngga bisa ngapa-ngapain, bahkan pakai kaus kaki aja dipakaikan asisten.
Saya pesan gocar tapi kok kejauhan jaraknya, sementara perut semakin sakit nggak kuat. Yaudah akhirnya naik motor aja!!

Perjalanan ke Klinik Bidan Naik Motor

Mules-mules mau lahiran sambil naik motor? Huah rasanya mantaps. Ditambah lagi di motor udah mau ngeden. Saat itu di pikiran ya udah hanya dzikir, istighfar minta ampun sama Allah setiap merasakan sakit kontraksi. Ditambah lagi jalan menuju ke sana berupa jalanan berbatu karena jalannya belum diaspal. Luar biasa rasanya.

Sampai Klinik Bidan

Sampai bidan sekitar jam 3 pagi. Sesampainya di bidan, saya izin mau BAB dulu. Kata bidan, jangan Bu, sini dilihat dulu udah bukaan berapa. Dicek bukaan, tapi bidan nggak bilang sudah bukaan berapa. Bidan bilang kalau sudah mau ngeden itu berarti sudah bukaan lengkap, ikuti aja insting dan naluri dari badan, jangan ditahan. 

Lalu bidan suruh aku naik bed. Setiap ada gelombang mau ngeden, ikutin aja ngeden gimana maunya badan.

Bidan dan Suami Menyemangati dan Memberi Sugesti Positif

Setelah beberapa kali ngeden, bidan tanya mau apa? Mau posisi gimana? Saya bilang mau sakitnya dikurangi. Bidan bilang kalau itu nggak bisa Bu..

Selama proses kelahiran, bidan sering memberi semangat, misal “Pinter..” beberapa kali. Saya pikir-pikir, kok saya kayak anak kecil ya, dibilang pinter jadi seneng dan semangat.

Saya tanya, “Bu kira-kira berapa lama lagi bu?”. Bidan bilang, “Maksimal 2 jam bu, tp 10 menit lagi juga bisa…” 

Suami juga Masya Allah memberi semangat banget. Sempat di tengah proses bilang “kamu hebat”, itu juga yang bikin semangat.

Sampai akhirnya bidan bilang, “Ini udah keliatan rambutnya bu”. Masya Allah saya langsung semangat ngeden, ada keyakinan dalam diri bahwa pasti bisa, pasti bisa.

Akhirnya, lahirlah anak ketiga kami pukul 3.24. Alhamdulillah Allahu Akbar…. 

Sungguh mudah kelahiran anak ketiga ini. Fase aktif kontraksi hanya sekitar 1.5 jam aja, dari jam 2 pagi sampai jam 3 pagi. Prosesnya juga sangat membahagiakan karena tanpa komplikasi. Ada lilitan tali pusar tapi nggak menghambat. 

Hari Minggu sore, sekitar 12 jam setelah lahiran, kami sudah bisa pulang ke rumah dengan perasaan sangat bahagia diantar oleh Akung dan Uti. Alhamdulillah Allahu Akbar…. 

Hikmah yang Didapatkan

Heran, justru pas lagi “ngambek” sm Allah, justru Allah membuktikan kuasa-Nya dengan cara tidak terduga. Kelahiran anak ketiga ini menjadi bukti bahwa sungguh Allah Maha Kuasa. Keberhasilan dan apa yang kita terima bukan karena usaha kita, tp murni karena kehendak dan kuasa Allah. Bisa jadi usaha sudah sangat maksimal, tapi Allah gagalkan. Bisa jadi usaha setengah-setengah, tapi malah Allah sukseskan. 

Walaupun begitu, maka niatkan segala usaha dan ikhtiar maksimal kita untuk mencari ridho-Nya, namun harus menata hati untuk tetap siap menerima apapun hasil ketetapan-Nya. 

Alhamdulillah Allahu Akbar…. 

Alhamdulillah Allahu Akbar…. 

Makasih ya Allah..

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.