Keluarga Lebih Utama daripada Teman

Dulu, aku membenci orang tuaku. Kalau harus memilih teman atau orang tua, tentu, aku akan pilih teman. Sampai suatu saat, luka dan benciku pada orang tua akhirnya sirna seketika….



Benteng yang menghalangi kedekatanku dengan Bapak dimulai sejak aku berumur sekitar empat-lima tahun. Waktu itu, aku diminta Mama membeli barang di warung. Lalu sepulang dari warung, aku tanya ke Mama, “Ma, ini kembaliannya gimana?”. Lalu Bapak bilang, “Dasar sok alim”.

Deg. “Sok alim”.

Lebih dari 25 tahun berselang, perkataan itu masih kuingat dengan jelas.

Selain itu, sewaktu aku kecil, Bapak dan Mama sering bertengkar. Bapak yang memiliki masa kecil yang keras karena ditinggal Nenek sejak Bapak SMP, membuat Bapak sangat emotionally abusive dalam rumah tangganya. Begitu marah, pasti Bapak membentak, minimal. Jika semakin marah, maka Bapak mampu menendang pintu sampai remuk, membanting dan membalik meja makan sampai piring-piring berjatuhan dan pecah, meremuk gelas kaca sampai tangannya sendiri berdarah, dan menyiram air kopi ke muka anaknya.

Bentakan, kekerasan, selalu disalah fahami dan tidak ada kesempatan membela diri, merupakan beberapa memori masa kecil yang menimbulkan luka mendalam tanpa disadari.

Lalu aku tumbuh menjadi seorang remaja yang suka berorganisasi dan sangat tertarik pada Islam. Di SMA dan di kampus, aku lebih senang berkumpul dengan teman organisasi dari pada bersama orang tua. Atau sibuk ikut lomba.

Walaupun waktu itu kedua orang tuaku kerja di luar kota dan hanya sempat seminggu sekali menengok anaknya, aku lebih suka menggunakan weekend untuk da’wah atau kegiatan organisasi. Dulu aku pikir, kita harus mendahulukan da’wah dan jihad di atas keluarga. Meninggalkan orangtua itu tidak apa-apa.

Jika memang harus bertemu orang tua, maka itu kulakukan karena kewajiban dan supaya mereka tidak marah saja. Dalam hatiku, tidak ada rasa respek dan sayang. Jika ada, sedikit sekali.

Sampai suatu saat, jaringan da’wah yang dirintis susah payah bersama teman-teman sampai ratusan orang ternyata sedikit demi sedikit semakin kusadari ciri-ciri kesesatannya. Aku berusaha meluruskan penyimpangan yang ada melalui tulisan-tulisan, namun pimpinan jaringan setelah itu malah menuduh aku sebagai orang gangguan mental dan tidak pantas didengar. Tidak ada ruang diskusi dan tabayyun.

Sebenarnya dari awal mula perselisihan dengan pimpinan dan murobbiku di jaringan tersebut, aku jatuh secara akademis. Beasiswa putus, IP anjlok. Kalau hati terasa sakit, setiap siang atau sore kerjaannya menangis dan menangis di masjid salman sambil menghafalkan murottal.

Di masa-masa yang berat itu. Teman-temanku yang mengerti dan menolong sedikit sekali. Aku lebih banyak sendirian. Teman-teman lebih banyak berpihak pada pimpinan mereka. Saat itu, yang mensupportku penuh untuk bangkit sedikit demi sedikit adalah orang tua, baik secara mental dan finansial.

Lalu, seiring dengan semakin banyaknya kesesatan yang kutemukan dan semakin banyaknya tulisan yang kushare ke teman-teman, ternyata teman-teman dari jaringan da’wah yang dulu benar-benar kuprioritaskan dengan mudahnya meninggalkan dan dengan mudah memfitnah karena aku mulai banyak tidak sepaham dengan mereka dan pimpinan mereka.

Kebanyakan teman-teman di jaringan da’wah tersebut lebih tsiqoh terhadap ucapan pimpinannya, walau pimpinannya itu menyeru kepada kesesatan. Naudzubillah. Sebagian kutulis ini di blog baldatho.wordpress.com.

Sebenarnya ada teman yang membelaku, tapi bisa dihitung jari. Mereka baik banget. They are still my best friend, hopefully, until Jannah. Kebanyakan teman-teman yang membela tersebut adalah teman-teman yang pernah beberapa kali aktif bersama dalam merekrut orang.

Mereka mengerti celah-celah perbedaan pendapat, mengerti betapa sulit dan kerasnya medan da’wah, dan lebih mengerti jalan pikiranku karena kita sering kerja sama dan punya visi misi yang sama.

Namun sayangnya, akhirnya kami tetap terpisah… Tidak ada alasan lagi untuk berkomunikasi.



Beberapa tahun kemudian, aku dan dua orang temanku merintis usaha di bidang investasi syariah. Usaha itu mampu mengumpulkan dana sekitar sembilan milyar untuk modal usaha hanya dalam beberapa bulan saja. Aku merasa usaha ini bisa menjadi pegangan dan potensi masa depan karirku.

Namun ternyata, ada seorang teman yang – karena kesalah fahaman yang tidak sempat diklarifikasi – membubarkan tim, menghapus aset digital dan membubarkan grup investor yang sudah susah payah dikumpulkan. Usaha rintisan tersebut bubar.

Lebih parah lagi, teman tersebut menghakimiku dengan mengatakan, “Saya jadi penasaran seperti apa orang tua kamu? Kalau orang tua saya sih pengusaha. Dapat kepercayaan dari orang Cina ratusan juta. Orang tua kamu gimana?” Kurang lebih seperti itu. Menyatakan secara implisit bahwa orang tuaku tidak berharga.

Seketika hatiku teriris-iris. Dia mencela dan melecehkan keluargaku – namun kejadian tersebut tanpa disangka menghapus semua rasa benciku pada orang tua. Ketika orang tuaku dicela, ternyata ada benih cinta dalam lubuk hatiku yang muncul memancarkan sinarnya dengan kuat, sinar yang muncul dari permata dalam hatiku yang terkubur lama. (hehe lebay ya)

Kejadian itu menghapus benci dan menyembuhkan luka hati dari orang tua selama ini.

Ya, baru kusadari ternyata aku menyayangi orang tuaku. Aku tidak rela orang tuaku dicela seperti itu.

Kejadian itu membuatku sadar, bahwa:

Kebaikan apapun yang dilakukan teman-temanku, tidak akan sebanding dengan kebaikan orangtuaku kepada ku. Kesalahan yang dilakukan orangtuaku, tidak sebanding dengan kesalahan yang dilakukan teman-temanku.

Selain itu, aku juga semakin menyadari posisi suami yang selalu jadi backing kalau ada apa-apa. Sebelum kejadian tersebut, aku menduga bisa mengandalkan usaha rintisan tersebut sebagai penghasilan dan tidak bergantung pada suami lagi. Ternyata, dugaanku salah.

Teman-temanku tidak ada yang bisa benar-benar mengerti diriku, memahami, apalagi membelaku saat aku terjatuh. Sedangkan orangtuaku lah, pahlawanku sebenarnya. Begitu juga suamiku.



Maafkan santi ya Bapak, Mama… Sungguh Bapak dan Mama adalah pahlawan dalam hidup santi. Terima kasih banyak ya Bapak, Mama… Semoga doa-doa santi bisa menjadi modal Bapak dan Mama untuk masuk Jannah-Nya.

You may also like...

1 Response

  1. November 17, 2021

    […] Mama yg mengerjakan hampir semua pekerjaan rumah: memasak sarapan, beres-beres, makasih Mama.. T_T Memang keluarga yang paling pertama dan utama. […]

Leave a Reply

Your email address will not be published.