Ketika Ku Mulai Menyayangimu

Mengandung dirimu sungguh perjalanan yang melelahkan. Hamil besar di saat shaum wajib, ditambah lagi tidak ada asisten yang membantu mengurus kakakmu dan dan mengurus rumah. Seringkali siang merasa lelah, hanya tidur sambil batuk-batuk. Kakakmu yang sering minta gendong menambah nikmatnya perjuangan hamil besar sambil menggendong anak 12 kg di punggung.

Mengandung dirimu merupakan perjuangan: mempersiapkan tas persalinan sejak umur kehamilan 30 minggu, rajin membaca buku persalinan, berjalan cepat minimal 30 menit setiap pagi, diselingi makan kurma, doa yang terus menerus di akhir sholat… Lahiran secara normal (pervaginam), itulah dambaanku.

Melahirkanmu merupakan kisah yang menyakitkan dan menyedihkan. Usaha melahirkan normal ternyata gagal karena dokter yang terpilih akhirnya diketahui ternyata tidak pro normal dan sering meninggalkan pasiennya. Bahkan saat melahirkan, terpaksa didampingi dokter lainnya yang tidak mengetahui track record kehamilan sebelumnya. Usai melahirkanmu, aku menangis, bahkan terus menangis di sekian malam demi malam. Kenapa bisa gawat janin? Kenapa harus sesar? Kenapa doa dan usahaku dikecewakan? Bahkan seorang dokter kandungan lain mengatakan bahwa bukaan 7 dgn kondisi gawat janin masih mungkin melahirkan secara normal.

Pasca melahirkanmu merupakan kisah yang masih menyakitkan, karena luka bedah terkena infeksi dan mengeluarkan nanah terus menerus sehingga aku harus dirawat lagi di rumah sakit beberapa hari lamanya. Infus disuntik di tangan kanan, lalu ganti tangan kiri, meriang dan pusing berhari-hari, risih tidak bisa mandi, pembuluh darah pegal dan sakit karena diinjeksi antibiotik terus menerus.

Engkau lahir dan kurawat tanpa ada rasa sayangku kepadamu. Menyusui dan mengurusmu hanya kewajiban yg harus dipenuhi saja, tidak ada rasa. Kalau kau menangis terus menerus di malam hari, aku jadi mudah marah. Kadang aku mengguncangmu karena tangismu tak juga berhenti dan aku tidak tahu sebabnya. Kadang juga aku ingin melemparmu kalau tangismu semakin keras.

Sampai pada suatu hari, kau yang berumur 3 minggu kuajak ke seminar tahfizh dengan otak kanan yang diselenggarakan di pinggir kota bersama seorang teman yang punya anak perempuan juga yang berumur sedikit lebih tua, sekitar 2.5 bulan. Masya Allah, aku baru menyadari ternyata kau gemuk, sehat, cantik, dan rambutmu tebal. Kau lucu, cantik sekali. Aku mulai menyadari betapa kau merupakan anugerah luar biasa dari Allah untukku. Mana mungkin aku sia-siakan, astagfirullah…

Malamnya, aku mencoba menggunakan baby wrap utk menenangkan dirimu yang sering menangis kalau malam dan baby wrap tidak berhasil menenangkanmu. Akhirnya aku menemukan bahwa ketika kau menangis dan tidak diketahui sebabnya (pee bukan, pup bukan, nyusu bukan) – maka kau hanya ingin dipeluk saja, dekat dengan dada. Kau membutuhkan pelukan, perlindungan, kehangatan seperti saat kau masih di dalam perutku dulu.

Menyadari hal tersebut, membuatku memutar kembali memori-memori lama, saat aku pernah sangat berjuang dan sangat berharap saat kau masih dalam kandunganku.

Kemudian melihat fotomu di masjid tadi, aku merasa… Aku mulai menyayangimu, anakku…

img_20180825_150212

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.