Mengapa Muslim Harus Menulis

Berbagai macam pikiran dan stigma saat kita mendengar kata “Indonesia”. Sebuah negara kepulauan di Asia Tenggara yang memiliki populasi ratusan juta yang kebanyakan adalah muslim. Indonesia, negara yang memiliki sumber daya alam begitu kaya namun masyarakat dan pemerintahannya begitu miskin sehingga harus terus menerus berhutang ke negara lain. Indonesia, negara yang sangat terbelakang pendidikan generasi mudanya, sehingga masyarakatnya mudah disetir oleh kiblat barat dan kiblat timur. Indonesia, negara yang tidak populer – tidak banyak orang luar negeri yang mengenal Indonesia, bahkan orang Singapura yang merupakan salah satu tetangga terdekatnya sekalipun. Indonesia, negara yang memalukan dan tertinggal. Akuilah.

Apakah karena kebanyakan penduduk Indonesia adalah muslim?

Jika kita lihat sejarah muslim generasi yang lebih awal, akan kita temukan sebuah komunitas dan peradaban yang bertolak belakang dengan kondisi muslim saat ini. Muslim-lah yang pertama kali memproklamirkan negaranya – yaitu Nabi Muhammad saw, yang mendirikan Negara Madinah. Muslimah-lah yang pertama kali mendirikan universitas – yaitu Fatimah al Fihri yang mendirikan Universitas di Baghdad. Muslim-lah yang membuat robot pertama kali, yaitu Al Jazari yang menemukan prinsip hidrolik dan konsep mekanik robot pertama. Lebih jauh lagi, muslim-lah yang pertama kali membuat konsep sanitasi, yang pertama kali membuat sabun dan shampoo, yang pertama kali menemukan ilmu bedah, yang pertama kali menemukan kamera dan proyektor, yag pertama kali menemukan huruf untuk orang buta, yang pertama kali menemukan angka nol, yang pertama kali menemukan not balok do-re-mi-fa-sol-la-si-do! Muslim seharusnya berjaya, muslim harusnya unggul!

Jadi, apakah Indonesia terbelakang karena kebanyakan penduduknya adalah muslim?

Jawabannya, absolutely, tidak.

Lalu mengapa sekarang umat islam begitu terbelakang?

“Mengapa? Harus bagaimana?”. Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan salah satu perenungan Nabi Muhammad saw sebelum mendapatkan tugas kenabian. Beliau menyempatkan waktu untuk merenung di dalam gua hiro selama tiga tahun lamanya, merenungi masalah yang melanda dirinya kehidupannya, dan kehidupan komunitas sekitarnya yaitu penduduk Mekah.

Akhirnya beliau mendapatkan wahyu pertama dari Allah, “Iqro, Bacalah!”, “Bismirabbika alladzi kholaq, dengan nama Rabbmu yang menciptakan”, “Iqro wa Rabbukal Akrom, Bacalah, dan Rabbmulah yang Maha Mulia”, “Alladzi ‘allama bil Qolam, yang mengajar dengan pena”, “‘Allamal insana ma lam ya’lam, mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”…

Mengherankan! Dengan wahyu ini dan wahyu selanjutnya, umat Islam bangkit, 20 tahun kemudian umat Islam sudah memimpin, dan 60 tahun kemudian umat Islam sudah mengglobal. Wahyu mengenai ‘membaca’, dan ‘menulis’ inilah yang pertama kali diajarkan Allah kepada umat Islam. Ini berarti, salah satu kunci kebangkitan adalah budaya literasi, yaitu budaya membaca dan menulis.

Masih belum percayakah anda? Coba perhatikan ayat selanjutnya yang turun setelah surat Al-Alaq, yaitu Al-Qalam, artinya ‘the Pen’, pena, pulpen! Ayat-ayat pertama adalah perintah membaca, dan tepat ayat-ayat selanjutnya ada pada surat yang diberi judul ‘pulpen’. Ini lebih meyakinkan lagi bahwa perintah pertama bagi umat Islam untuk menuju kebangkitannya adalah; pertama, membaca tulisan, karena melalui membaca tulisan itulah Allah mengajarkan manusia (“Alladzi ‘allama bil Qolam, yang mengajar dengan pena”); lalu kemudian, menuliskannya lagi dengan menggunakan pena. Percayalah, peradaban Islam dimulai dari kebudayaan membaca dan menulis – karena Al Quran diturunkan dimulai dari perintah membaca dan menulis.

Tentunya, perjalanan kebangkitan Islam ini tidak hanya berhenti pada budaya literasi yang tinggi, karena ayat selanjutnya pada Al Qolam adalah mengenai akhlaq, karakter atau attitude yang agung (‘adzim).

Setidaknya, melalui ayat-ayat pertama dari Allah yang turun pada umat Islam, sudahkah rekan-rekan yakin bahwa kita sebagai umat Islam harus banyak membaca, dan juga menulis, agar kita menjadi umat yang bangkit, yang memimpin, yang mendunia, yang tidak lagi menjadi umat yang tertinggal dan terbelakang?

“Iqro wa Rabbukal Akrom, Bacalah, dan Rabbmulah yang Maha Mulia”…

“Alladzi ‘allama bil Qolam, yang mengajar dengan pena”…

“Allamal insana ma lam ya’lam, mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”…

Wahai umat Islam, membacalah, karena dengan membacalah Allah mengajarkan kepadamu apa yang tidak kamu tahu. Wahai umat Islam, menulislah, karena ini adalah salah satu perintah (implisit) dari Allah. Mari kita tingkatkan budaya literasi, dimulai dari diri kita, keluarga kita, lingkungan kita, karena ini adalah kunci-kunci kebangkitan…

Wallahu a’lam

By: Anbars

#PRKelasbasic
#Revowriter19
#kelasmenulisonline

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.