Merenungi Sebatang Lengkuas

Pada suatu pagi di hari Kamis, di tengah persiapan memasak sayur lodeh saya menyadari bahwa saya kehabisan lengkuas. Lalu saya meminta kakak asisten untuk membeli lengkuas di tengah perjalanannya ke rumah. Akhirnya datanglah dua batang lengkuas seharga tiga ribu rupiah, yang salah satunya adalah batang lengkuas ini. Bersih dan cantik ya?

Lengkuas

Rasanya, kok murah sekali lengkuas seperti ini hanya dihargai 3000 rupiah saja? Bukankah untuk menanam dan merawat lengkuas sampai jadi seperti ini, butuh energi dan perhatian yang cukup besar? Betapa murahnya energi para petani/penanam dihargai di Indonesia.

Selanjutnya, apa-apa yang petani/penanam jual itu, sebenarnya adalah sesuatu yang ditumbuhkan oleh Allah. Mereka menanam bibitnya, merawat dan menyirami, lalu tanaman itu tumbuh dengan sendirinya dengan memiliki bentuk, tekstur dan rasa masing-masing. Amazing!! Bukankah itu hal yang luar biasa? Saat kita membeli tanaman tertentu, kita membayar jasa petani. Namun apakah kita dan petani mampu membayar jasa Allah yang telah menumbuhkan berbagai macam tanaman tersebut?

Tentu tidak. kita tidak mampu membayar apa-apa yang telah Allah lakukan untuk kita. Mau bayar pakai apa? Emas? Allah mampu membuat emas. Uang? Lah bukankah Allah yang punya langit dan bumi dan seluruh uang di dalamnya?

QS 2:22. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.

Sebatang lengkuas membuatku semakin sadar bahwa Allahlah yang menjamin rezeki manusia, dengan salah satunya adalah menumbuhkan berbagai macam tanaman dan sayuran. Makanan kita, sumber penghidupan kita, semuanya telah disediakan oleh Allah melalui teknologi dan mekanisme yang super canggih yang tidak mungkin manusia membuatnya. Manusia hanya mengolah saja..

Oleh karena itu, saat merasakan makanan yang enak, janganlah engkau hanya memuji manusia yang memasak dan mengolahnya, namun pujilah juga Allah sebanyak-banyaknya, yang membentuk dan menumbuhkan seluruh bahan pokok pembentuk makanan tersebut dan merancang strategi sedemikian rupa sehingga satu porsi makanan enak tersebut terhidang begitu saja di atas mejamu.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.