Mudah Mengklaim, Sifat yang Kurang Baik

Belakangan ini sy baru menyadari bahwa sy punya sifat buruk parah, yaitu mudah mengklaim. Ini sebenarnya aib sih, tp saya tulis aja agar bisa jadi bahan introspeksi dan pengingat saya di masa depan. Supaya bisa jadi langkah awal untuk memperbaiki diri. Walaupun Alhamdulillah sifat ini belum sampai ranah legal, penulisan jurnal atau pencurian copyright. Alhamdulilalh juga selalu ada kerabat yang mengingatkan. Kalau kerja sendiri sih OK hehe, kalau kerja dengan orang lain tentu menimbulkan masalah.

Adik binaan.

Dulu waktu kuliah, sy sering merekrut adik binaan. Mungkin sy diberikan sedikit gift oleh Allah di bidang ini, alhamdulillah berhasil merekrut banyak adik binaan. Sy mudah menghafal nomor ayat dan meyakinkan orang. Sayangnya, di organisasi dakwah yang saya ikuti dulu, tim rekrut dan tim binaan dipisah. Jadi terpaksa adik-adik binaan yang berhasil direkrut, ditransfer ke tim pembina.
Hierarki organisasi kayak gini gak cocok di saya. Sy yang merasa sudah berusaha keras merekrut adik binaan, “merasa” punya kontrol dan kendali atas adik-adik binaan terkait materi pembinaan atau komunikasi. Sering rasanya gak rela mentransfer ke tim pembina yang menurut sy kurang berperan dalam usaha merekrut hehe.

Di kasus ini, sy sering “mengklaim tanpa sadar” bahwa adik-adik itu adalah hak saya utk membina karena saya yg merekrut. Nggak rela rasanya mentransfer ke orang lain. Kadang perasaan tersebut dipendam dan kadang diutarakan. Tentu sikap begini akan menimbulkan konflik di tim ya. Namun alhamdulillah saya sudah tidak bergabung lagi dengan organisasi ini.

Proposal BeeLED

Dulu waktu kuliah, saya pernah membuat proposal usaha handicraft berhiaskan/berbasis LED. Nama brandnya BeeLED. Saat membuat proposal, saya meniru isi proposal usaha lain punya kakak kelas yang saya kenal baik tanpa seizin beliau dan juga tanpa menuliskan bahwa bagian ini sebenarnya merujuk proposal lain.

Alhamdulillah proposalnya lolos dan mendapatkan dana 25 juta yang bagi mahasiswa, itu besar sekali.

Si kakak kelas yang proposalnya saya tiru akhirnya penasaran dan ingin melihat isi proposal BeeLED, dan kaget kok isinya ada yang dari proposal beliau dan dia konfirmasi, kok nyontek dan nggak minta izin dulu? Saya minta maaf, dia ketawa aja hehe.

Satu atau dua tahun setelah kejadian itu, saya masih belum sadar juga kalau sikap tersebut salah besar. Parah emang. Alhamdulillah sekarang sudah sadar. 

Bros LED

Dulu saya pernah mementor seorang teteh berjurusan seni rupa. Beliau punya tesis mendesain sebuah bros LED yang nyalanya bisa menyesuaikan warna baju. Kebetulan, beliau yang membutuhkan jasa desain rangkaian listriknya bertemu saya dan meminta bantuan saya untuk mendesainnya bagian elektriknya. Saya juga membantu mencarikan dan membelikan komponen-komponen yang dia butuhkan.

Suatu waktu, saya cuma nyeletuk bertanya kurang lebih begini “Teh, ini bros LEDnya kalau sudah jadi desainnya, boleh saya produksi?”. Di luar dugaan, setelah itu si teteh marah besar, membicarakan saya di forum -forum dan menganggap saya mengambil hak ide bros LED yang dia punya.

Saya waktu itu kebingungan karena saya tidak bermaksud mengambil ide beliau sama sekali, dan baru bertanya aja, belum melakukan apa-apa, belum melakukan klaim sama sekali. Tapi ternyata, pertanyaan saya dianggap kurang etis karena dia menganggap saya mengambil ide dia.

Wawancara S3 di UI

Tahun 2017 akhir, saya sempat mendaftar S3 di UI. Setelah lulus seleksi akademik, saya diwawancara oleh sejumlah akademisi di UI, termasuk salah satunya prof. Riri.

Sebelum ke sana, saya mau cerita sedikit tentang tesis S2 saya. Tesis S2 saya adalah tentang implementasi HMM untuk sistem rekognisi tari dari Aceh. HMM adalah singkatan dari Hidden Markov Model, sebuah model sekuensial yang bisa dipakai untuk pola-pola sekuensial seperti audio, tari, dan lain-lain.

Setelah tesisnya selesai, topik ini dilanjutkan oleh dosen saya, Bu Aciek, untuk dibuat proposal penelitian LPDP. HMMnya diaplikasikan untuk tari Lampung. Saya membantu membuat proposalnya dan presentasi di hadapan reviewer LPDP. Alhamdulillah, tim dosen saya dapat dana sebesar 500 juta. Penelitian tersebut akhirnya dikerjakan oleh mahasiswa doktoral bimbingan dosen saya. Sy waktu itu sudah mengajar di Telkom University dan loadnya sudah agak banyak antara mengajar dan mengurus anak. Jadi penelitian itu tidak banyak sy bantu.

Ternyata penelitian itu mengalami kendala tanpa saya tahu. Namun, prof. Riri tahu bahwa penelitian itu bermasalah.

Waktu wawancara S3 di UI, saya mengajukan proposal penelitian yang merupakan kelanjutan dari tesis saya dengan perbedaan algoritma. Prof. Riri mengatakan kok proposal penelitiannya mirip dengan yang dikerjakan Bu Aciek? Dengan lancangnya, saya bilang “oh itu punya saya”. Salah ngomong saya (dodol emang). Maksudnya, itu penelitian lanjutan dari tesis saya. Karena idenya dari tesis saya.

Tentulah setelah itu saya ditegur bahwa tidak boleh mengklaim penelitian orang lain. Saya jelaskan bahwa saya salah bicara, dan sy utarakan maksud saya sebenarnya, dan apa posisi saya di penelitiannya Bu Aciek. Tetap saja kesalahan itu ditegur kembali oleh prof. Riri. Setelah itu, saya tentu tidak lolos wawancara UI. Hehe

Proyek yang diklaim proyek Nabitu.

Dulu sy dan beberapa rekan pernah membuat semacam crowdfunding investasi syariah. Namun ternyata tim tersebut tidak bertahan lama karena banyaknya selisih pendapat dan trust issue di internal tim.

Ada link-link usaha memang kami kumpulkan bersama. Saya sejak awal menganggap link-link yang kami peroleh tersebut link bersama, bukan link milik perorangan, walaupun ada proyek-proyek yang dikelola yang linknya dari saya. Tim mulai bermasalah ketika ada seseorang yang sangat posesif dengan link dan koneksinya, “Ini link saya, kamu ngga boleh menghubungi link saya lagi”. Padahal sebelumnya, beliau juga menghubungi link saya tanpa seizin saya dan saya tidak mempermasalahkan itu. Saya juga menghubungi orang-orang yang kebetulan kenal dia karena DM langsung, bukan melalui rekan saya tersebut, namun beliau menganggap saya menikung link dia. Fyuh. Memang jika tidak ada mutual trust, sebuah tim tidak akan bertahan lama.

Setelah akhirnya proyek-proyek tersebut berjalan, saya menganggap bahwa proyek bersama yang dari link beliau menjadi proyek beliau, dan proyek bersama yang dari link saya jadi proyek saya. Ternyata anggapan dan klaim saya salah dan tidak etis (bahkan awalnya saya gak sadar. Parah banget sih saya). Akhirnya saya ditegur oleh suami bahwa proyek bersama yang berjalan ya dianggap proyek bersama, jangan dianggap proyek pribadi.

Baiklah akhirnya saya merevisi klaim-klaim tersebut… Alhamdulillah suami bisa mengingatkan saya dengan baik.


Demikian.

Astagfirullah ya kalau diingat-ingat ya dodol banget sih. Semoga Allah menjaga saya agar tidak terjerumus lagi dalam kesalahan yang sama. 

Aamiin ya rabbal alamiin

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.