Pelajaran Tentang Pertemanan dari Webtoon Girl’s World

Tiga bulan belakangan ini saya lagi mellow, sedih dan sering nangis sendiri karena masalah pertemanan. Jadi gatel ingin nulis hehe.

Waktu SD-SMA, saya tidak terlalu concern dengan masalah pertemanan karena dididik oleh orangtua yang memang kurang concern di bidang ini dan saya juga fokus dengan studi saja. Bagi saya, tidak punya teman tidak apa-apa. Satu-dua orang yang menerima saya, cukup buat saya.

Namun, pandangan saya tentang pertemanan berubah saat saya kuliah dan mulai memasuki dunia da’wah dan organisasi yang hierarkinya lebih kuat. Banyak konflik yang dialami, selain karena faktor ideologi/cara berpikir, juga faktor karakter yang memang sulit dipaksakan bersama.

Di sisi lain, justru di dunia da’wah ini juga, saya menemukan beberapa teman sejati, deket banget (saya sih merasanya begitu) yang sampai sekarang, setelah 13 tahun masih berhubungan baik. Belum pernah saya punya teman-teman sedekat ini sebelumnya. Kebanyakan beberapa teman ini dekat karena sama-sama mencintai Islam, suka belajar Islam dan terlibat di dunia da’wah.

Di dunia da’wah inilah, saya merasakan sayang kepada teman, sayang dan cinta karena Allah. Karakter MBTInya bagaimana, kekayaannya bagaimana, hobbynya bagaimana, suka nonton apa, benar-benar tidak saya permasalahkan atau bahkan saya lihat sama sekali.

Saya menyayangi mereka karena Allah, hanya melihat keislamannya aja. Saya menyayangi dengan rasa sayang dari hati. Allah Maha Tahu bagaimana perasaan saya sesungguhnya kepada mereka.

Lalu, sewaktu jadi dosen, saya juga tidak terlalu memikirkan pertemanan karena fokus mengajar dan mengurus anak pertama.

Nah beberapa bulan belakangan ini, saya mulai terpikir lagi masalah pertemanan ini karena kebetulan satu tim dengan teman masa kuliah, di mana memori-memori masa kuliah muncul lagi ke permukaan.

Saya merenung, teman yang memang sejak awal pernah atau bahkan sering mengabaikan janjinya kepada saya, tidak akan berubah dan akan tetap memandang rendah janjinya kepada saya. Teman yang sejak awal memilih lingkaran pertemanan lain, akan terus memilih pertemanan lain dan tidak akan pernah dekat dengan saya atau bahkan membela saya. Teman yang bahkan WA aja tidak membalas, maka jangan harap akan diperlakukan dengan lebih baik dari itu. Teman yang sejak awal sering mengkritisi (dengan tidak membangun), akan tetap terus begitu puluhan tahun kemudian. Teman yang menjauh takut terkena isu saat bersamamu, maka jangan harap kamu akan ditolong saat kesulitan.

Jika respek pada pesan dan janji saja sulit, apalagi respek sama pribadi kamu

Saya juga merenung apakah saya benar-benar sosok yang buruk dalam berteman, sampai suatu saat saya mengunjungi blog teh Reytia yang membahas tentang Webtoon Girl’s World.

Saya tertarik membaca sampai selesai dan masya Allah, walaupun tidak ada Al-Qur’annya, tapi kisah-kisahnya digambarkan begitu nyata di kalangan pertemanan perempuan hehe. Banyak hikmah yang bisa diambil. Berikut ini hikmah-hikmah yang saya ambil dari sana:

1. Kisah Sunji dan Mirae yang dijauhi banyak teman karena isu dan gosip yang beredar.

Di sini, saya merasa relate banget dengan sosok Sunji dan Mirae yang kesepian karena gosip miring. Mereka tidak sepenuhnya salah, mereka diterpa gosip miring karena lingkungannya toxic. Namun gosip dan label miring itu tentu membuat mereka sedih, sendiri dan sulit punya teman. Karena kebanyakan teman yang lain sudah terlanjur melabeli mereka ini itu.

Di sini, saya jadi lebih merasa bahwa saya adalah manusia normal yang baik-baik saja kok (berkali-kali saya pikir saya ini orang abnormal). Semua kejadian dan perasaan yang saya alami, itu juga dialami juga oleh orang lain. Selain itu saya juga jadi lebih empati jika ada seseorang yang diterpa isu miring. Berhenti bicarakan kejelekan, dekati baik-baik dan ajak diskusi. Semoga Allah kuatkan.

2. Siap membela dan menolong teman yang kesulitan.

Saya jadi kagum dengan sosok Nari yang mau menerima Sunji dan Mirae dan berteman dengan mereka, dan memperlakukan Sunji dan Mirae sebagai sosok manusia normal yang pantas ditemani, dibela dan didukung saat terjatuh.

Saya jadi teringat beberapa teman dari ITB dan UNPAD yang dulu siap stand-up di hadapan orang-orang yang menjelek-jelekkan saya. Mereka tidak bermuka dua – baik di sana baik di sini, tapi ketika tahu teman mereka disudutkan, mereka berusaha membela atau minimal memposisikan setidaknya lebih objektif. Mereka juga terbukti dalam berbagai keadaan menolong saya dalam keadaan sulit. Biarlah saya simpan nama-nama mereka dalam hati dan senantiasa saya doakan semoga Allah mencintai mereka. Uhibbuhunna fillah…

Saya pun ingin mencontoh Nari dari sisi ini, jika ada teman yang disudutkan atau dikucilkan di hadapan saya, harus siap membela dan mendukung (dengan tetap objektif). Jangan diam atau malah ikut menjatuhkannya dan menyalahkannya (walaupun mungkin memang ada kesalahan yang mereka lakukan). Jika dia salah pun, bukankah dia tetap berhak mendapat nasihat dengan penuh kasih sayang in private setting?

Apalagi kalau teman itu seorang muslim, kenapa kita tidak mau menolong?

Sejak beberapa waktu lalu, saya juga semakin respek pada rekan-rekan PKS – ternyata mereka tidak seburuk yang saya pikirkan sebelumnya. Di konteks pertemanan yang lebih besar, rekan-rekan PKS membela hak-hak kelompok Islam lainnya ketika kelompok-kelompok Islam tersebut dizalimi. Misal ketika pembunuhan 6 orang FPI oleh polisi, PKS stand up dan speak up membela di hadapan pemerintah dan media. Ketika pembubaran ormas Islam, PKS dengan tegas menolak keputusan pemerintah. Dari kejadian-kejadian tersebut, saya melihat pembelaan dan keberpihakan PKS terhadap umat Islam begitu nyata. Sungguh sangat jarang kelompok Islam mau membela kelompok Islam lainnya ketika dizalimi. Padahal menurut saya, pembelaan adalah salah satu kriteria teman terbaik.

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”

QS Al Hujurat 49:10

3. Lebih baik langsung jaga jarak dari orang yang terlalu banyak membicarakan diri sendiri dan sulit minta maaf.

Biasanya, saya berusaha memaksakan diri untuk dekat dengan teman yang seperti ini. Bukan karena faktor materi, sih. Biasanya karena faktor ilmu agama Islam atau karena saya ada di kelompok Islam yang memaksa saya harus bertemu dengan orang-orang seperti ini.

Walaupun orangnya memiliki sisi-sisi yang sulit saya tolerir (misal terlalu banyak bicara atau membuka amal-amal ibadah yang menurut saya lebih baik disembunyikan), dulu saya berusaha paksakan diri menyesuaikan diri mentolerir kekurangannya dengan harapan memperoleh ilmu Islam dari beliau.

Ada juga yang memang saya terpaksa mengikuti forum mereka dan menimba ilmu dari mereka karena memang orang-orang tersebut adalah guru atau musyrifah yang ditunjuk untuk mengajar di kelompok saya.

Namun, makin lama sifat ini membuat saya tidak tahan. Bukankah sebelum memutuskan belajar Islam pada seseorang, kita harus perhatikan adab dan akhlaknya?

Sekarang, saya sudah membuat keputusan untuk tidak belajar Islam dari orang-orang di kelompok-kelompok Islam, tapi langsung ke ulama atau ustadz. Daripada menyulitkan diri sendiri, lebih baik menjauhi orang-orang seperti ini. Biasanya orang seperti ini ilmu islamnya juga masih permukaan (saya juga sih sebenarnya), jadi cenderung mudah menilai dan menyimpulkan sesuatu yang belum diketahui dengan dalam.

4. Jaga jarak dari orang yang pernah membicarakan keburukan orang lain tanpa sepengetahuan orang itu.

Biasanya dulu saya juga memaksakan untuk memperbaiki hubungan dengan orang-orang seperti ini. Masih aja saya sapa dan saya dekati kalau memungkinkan karena saya pikir saya yang salah. Tapi ternyata berat sekali untuk kesehatan mental saya.

Jika mereka dengan mudah membicarakan keburukan orang lain, maka suatu saat bersiaplah, keburukanmu yang akan dibicarakan selanjutnya di hadapan orang lain. BERKALI-KALI. Waspadalah!!

Pada kenyataannya, mereka akan melakukan ini padamu (yaitu membicarakan keburukan orang lain di belakang) berkali-kali karena sudah mengkarakter dan sudah jadi kebiasaan. Entah kamu menjadi pendengar keburukan orang atau sebagai korban yang dibicarakan di belakang, dua-duanya akan sering dialami dan dosanya besar.

Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.

QS Al-Hujurat 49:12

Kalau sudah kebiasaan, akan susah diperbaiki walaupun sudah diingatkan berkali-kali. Jadi, begitu sekali terjadi, langsung jaga jarak dengan orang-orang seperti ini.

5. Ingin punya hubungan yang baik dengan anak-anak agar anak-anak punya kemampuan sosial yang baik.

Saya merasa saya ini tidak punya kemampuan sosial yang baik karena secara emosional saya jauh dari orang tua (Bapak dan Mama). Kalau bertemu orang tua, maka akan bingung mau ngobrol apa. Kaku dan serius banget. Speechless. Tidak bisa saling mengerti karena sejak kecil jarang berkomunikasi. Mending enggak cerita apa-apa deh daripada dikomentari ini itu. Sejak kecil, saya lebih sering berinteraksi dengan pembantu dan TV dari pada dengan orang tua.

Nah dari pengamatan sekitar dan kisah Girl’s world, saya yakin orang yang punya kemampuan sosial yang baik tumbuh di keluarga atau lingkungan yang harmonis dan dekat, terutama dekat dengan orang tua. Antara orang tua dan anak, bisa saling peluk, cium, dan cerita apapun tanpa takut dinilai ini itu.

Saya berdoa semoga Allah menjadikan anak-anak saya punya kemampuan dan kepekaan sosial yang jauh lebih baik dari saya…

6. Kaca yang sudah pecah sudah tidak mungkin kembali seperti semula.

Dulu saya pikir bisa memperbaiki hubungan yang pernah retak. Tapi sulit sekali untuk kembali akrab seperti semula. Sekarang saya menyerah dan ya sudah diserahkan kepada Allah. Toh kesalahan ada di kedua pihak, bukan di saya saja. Jika pun saya yang salah, teman yang baik pasti akan tetap baik padamu walaupun kamu terjatuh melakukan kesalahan… Bertabayyun dan tidak terpaku pada prasangka.

Lelah playing victim. Lebih baik tidak terlalu dekat agar luka lama tidak terbuka kembali.

Jika memang sangat perlu diperbaiki, salah satu solusi dari Al-Qur’an adalah adanya pihak ketiga yang menengahi. Jika tidak ada yang bersedia menjadi pihak ketiga – di mana membutuhkan kedewasaan dan kematangan emosi – maka ikhlaskan saja hubungan ini. Bumi Allah itu luas, in sya Allah di luar sana masih banyak teman-teman yang baik.

Berikut ini ayat-ayat yang menunjukkan butuhnya pihak ketiga untuk mendamaikan dua pihak:

Dan jika kamu khawatir terjadi persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan. Jika keduanya (juru damai itu) bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sungguh, Allah Mahateliti, Maha Mengenal.

(QS An Nisa 4:35)

Dan apabila ada dua golongan orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat zalim terhadap (golongan) yang lain, maka perangilah (golongan) yang berbuat zalim itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlakulah adil. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.

(QS Al Hujurat 49:9)

7. Suami adalah salah satu teman terbaik yang saya punya.

Ini beberapa perkataan suami yang bikin meleleh.

Waktu taaruf.
Saya: “Kamu masih mau sama saya walau saya kena isu?”
Suami: “Gapapa. Siap pasang badan.”

Di waktu-waktu lain suami pernah bilang:

“Gendut gapapa kok”
“Aku sih sudah khatam sama karakter dan keinginan-keinginan kamu”
“Aku gak menyesal nikah sama kamu. Mungkin kamu yang nyesel nikah sama aku.”
“Dia mah maunya kalau ada duitnya ya. Udah cari teman lain aja.”

8. Belajar Menerima dan Menyukai Diri Sendiri

Dari Webtoon Gir’s World, saya juga belajar menyukai dan menerima diri sendiri dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Tidak peduli apakah orang lain akan suka, yang penting saya sendiri harus terus memperbaiki diri agar menjadi orang yang disukai oleh diri saya sendiri.

9. Mungkin Tidak Akan Menemukan Pertemanan yang Dekat Lagi Di Masa Depan.

Karena kesibukan memperhatikan anak-anak, keluarga dan pekerjaan, mungkin tidak akan ada waktu lagi untuk menambah teman dan mendapat teman yang dekat banget seperti dulu.

Biarlah pertemanan yang dulu pernah terjadi, jadi kenangan untuk disimpan di hati dan diceritakan kepada Allah. Semoga Allah mengizinkan untuk bertemu dengan teman-teman yang saya berteman dengan mereka karena Allah, di surga-Nya.

Beberapa teman terbaik ada di sini

Tugas selanjutnya adalah bagaimana agar anak-anak saya jadi teman yang dekat banget dengan saya.



Diselesaikan di Tangerang, 5 Maret 2021
Oleh: Nurfitri Anbarsanti

You may also like...

1 Response

  1. Reytia says:

    teteh aku baru baca… ya ampun aku bercucur air mata lg, webtoon ini emg healing bgt ya…

Leave a Reply

Your email address will not be published.