Pengalaman Merintis Usaha (SD-2021)


Lagi ingin share secuplik bagian kehidupan, yaitu tentang pengalaman merintis usaha.

1. Pengalaman Jualan Origami (SD)

Sejak SD, entah kenapa cita-cita saya ada dua, yaitu ilmuwan (penemu) yang punya usaha sendiri. Saya lupa bagaimana kronologisnya waktu SD. Yang jelas, waktu kelas 4 SD kalau tidak salah, di SD saya ada program membuat kue dan menjualnya. Itu pengalaman pertama berjualan.

Lalu, masih di sekitar umur yang sama yaitu kelas 4 atau 5 SD, saya terbiasa membuat origami dari buku origami original dari Jepang pemberian om saya yang sekolah di sana. Nah, terpikirlah jualan origami buatan saya ke teman-teman.

Dengan bermodalkan 40 rupiah per lembar kertas origami dan jasa melipat origami, saya jual hasil origami dengan harga 200 rupiah untuk origami yang sederhana. Untuk origami yang lebih rumit seperti laci, tentu harganya lebih mahal.

Alhamdulillah, dari hasil jualan ini, selama seminggu begadang melipat dan menjual origami, saya mendapat 40.000 rupiah. Bagi seorang anak SD, ini hasil yang sangat membahagiakan. Memori di saat-saat melihat hasil jualan origami di laci meja belajar kayu masih terkenang sampai sekarang.

2. Pengalaman Jualan Buku (SMA)

Waktu SMA, saya naksir seorang pemenang medali emas olimpiade yang bercita-cita jadi pengusaha. Akhirnya, saya ingin jadi juara olimpiade dan ingin punya usaha juga seperti beliau.

Jadi waktu SMA saya sudah bertekad ingin punya usaha suatu saat nanti. Tapi, masih suka belajar juga, jadi masih ingin jadi ilmuwan juga hehe. Jadilah waktu SMA, saya ikut OSIS dengan tujuan melatih kemampuan organisasi dan kepemimpinan, dan ikut olimpiade karena masih suka ngoprek-ngoprek soal matematika (tapi tidak suka sekolah).

Nah kebetulan saya ingat orangtua saya selalu beli buku paket di Palasari Bandung supaya lebih murah. Jadi saya sering mampir ke sana sendiri untuk beli buku paket sendiri. Ternyata harga buku di Palasari lebih murah dibanding harga buku paket dari sekolah. Akhirnya saya jualan buku paket dari Palasari ke teman-teman dengan harga yang lebih murah dari harga buku paket yang dijual di sekolah.

Dulu belum punya motor dan SIM, jadi saya kerja keras banget angkut-angkut buku sendirian naik angkot dari palasari ke sekolah berkali-kali. Saya lupa menghasilkan berapa, tapi sampai ratusan ribu kayaknya. Saya pernah diejek teman karena jualan buku dan saya sakit hati sampai mau menangis.

Alhamdulillah. Selain itu, waktu mentoring SMA, seorang mentor bertanya apa cita-citanya? Saya jawab, ingin jualan produk yang ada pesan-pesan dakwahnya. Sampai sekarang belum kesampaian hehe. Yang melakukannya malah teman sebangku kelas 2 SMA saya yang sekarang punya brand besar. Barokallah ya Nggi.

3. Pengalaman Membuat Proposal Usaha dan Meraih Dana (Kuliah)

Sewaktu kuliah, harusnya saya memilih Teknik Informatika karena beasiswa USM yang saya dapat mensyaratkan saya harus ambil Teknik Informatika. Tapi astagfirullah, saya baru sadar baru-baru ini bahwa saya tidak menepati janji waktu tahun 2008 dulu. Saya malah pilih Teknik Elektro dan sudah terlanjur terjadi.

Nah di Teknik Elektro, tertarik sekali dengan elektronika praktis. Terpikir jualan handycraft yang berhiaskan LED. Kebetulan, waktu itu ada Pekan Mahasiswa Wirausaha. Saya buat proposal BeeLED dengan sebagian menyontek proposal kang Dody Suhendra sang dewa pembuat proposal tanpa izin beliau. Astagfirullah. Kok dulu nggak punya etika banget ya? Maaf banget ya kang Dody.

Alhamdulillah proposal itu menang dan tim BeeLED dapat 25 juta. Karena ketidaktahuan, 25 juta itu dihabiskan untuk alat-alat produksi LED yang masih tersimpan rapi sampai sekarang di rumah orang tua saya.

Sayangnya, karena ketidakmampuan manajerial waktu dan tenaga dalam membagi fokus antara kuliah dan usaha, usaha itu belum bisa berlanjut hehe. Waktu itu bingung juga menyikapi seseorang dari luar tim BeeLED yang dengan kemampuan produksi dan manajemen luar biasanya membantu-bantu usaha kami tanpa kami minta.

4. Pengalaman Ditawari Investasi oleh Investor

Waktu itu saya dan teman-teman membuat produk Thousand Hands Revolution namanya. Produk Game Tari Saman yang bisa mendeteksi tepukan di badan manusia. Alhamdulillah produk ini menang juara Electrical Engineering Awards juara 1 meraih 10 juta rupiah di tahun 2009. Bagi seorang mahasiswa, uang dengan besar segitu besar sekali.

Produk ini mendapat exposure dari berbagai media seperti majalah Tempo, Kick Andy, dan media-media lainnya.

Di tahun 2011 kalau gak salah, teman saya dikontak oleh seseorang (entah kenapa orang-orang luar pasti kontak teman saya ini, nggak kontak saya langsung hehe) yang mengajak bertemu. Ternyata seseorang itu mengajak timnya yang jumlahnya sampai belasan sepertinya.

Kami makan-makan di rumah makan dekat kampus. Mereka menawari investasi untuk produksi produk Thousand Hands Revolution dan akan mereka bantu jual ke sekolah-sekolah. Waktu itu saya tolak karena kami belum lulus dan ingin fokus TA (duh kok dulu gak paham sih kalau itu tawaran besar).

Selain itu, produk Thousand Hands Revolution ini juga dapat dana lain dari PKM penelitian kalau gak salah untuk pengembangan penelitian produk ini dengan menggunakan Kinect. Sayang dana ini juga kurang terkelola dengan baik, tidak ada hasil riset yang dihasilkan.

Pelajaran: Sebelum mengelola usaha, harus selesai dan “menang” dulu dalam mengelola diri.

5. Pengalaman Mengelola Investasi Tanpa Riba (2020-sekarang)

Sejak perkuliahan yang berdarah-darah dan penuh air mata dan fokus dengan studi S2 di tahun 2012-2014, karir sebagai dosen (2015-2018), saya tidak sempat merintis usaha lagi. Waktu-waktu itu juga saya fokus berjuang keras dari sisi dunia akhirat untuk menjaga hati dan mendapat jodoh (mungkin akan saya ceritakan di artikel lain), jadi tidak kepikiran untuk usaha.

Sampai akhirnya saya resign dari kampus karena ketidakcocokan idealisme dan mengusahakan untuk mendapat S3. Eh tapi kok S3 tidak dapat-dapat beasiswanya. Akhirnya, tahun 2019 saya ikut investasi di PelangiHijab beberapa kali dan dapat kesempatan dan amanah untuk mengelola beberapa proyek investasi di sana.

Sempat saya mengajak beberapa teman untuk membuat tim. Namun ada beberapa kesalahan yang saya lakukan:

Visi Misi dan Value yang Berbeda

Visi misi dan value yang berbeda membuat tim tidak solid. Ada yang tidak ingin terbuka dalam melakukan penawaran investasi, ada yang tidak rela memberi gaji cukup untuk karyawan, ada yang tidak ingin mengeluarkan biaya operasional, ada yang tidak ingin membayar pajak karena cenderung menganggap pemerintah zalim, di sisi lain ada yang berani menggaji karyawan cukup besar dan berani membayar pajak karena pajak dianggap sebagai sedekah. Perbedaan pendapat ini diperparah dengan kesalahan selanjutnya, yaitu pembagian saham yang sama rata.

Pembagian Saham yang Sama Rata

Ini juga kesalahan besar yang dibahas di drakor Start-UP. Pembagian saham yang sama rata akan menghasilkan kehancuran, karena menurut Han Ji Pyeong, sama saja dengan bunuh diri. Satu orang yang bukan perintis dan bukan key person memiliki porsi saham yang sama bisa membubarkan seluruh perusahaan. Tidak ada satu orang key person yang menentukan kebijakan dan visi misi ke depan bagaimana. Tidak ada satu key person yang memiliki saham dominan yang menentukan arah gerak perusahaan.

Sikap Emosional dan Menyimpulkan Tanpa Data dan Fakta

Logical fallacy sering terjadi akibat terlalu mudah emosi dan terlalu mudah menyimpulkan tanpa mencari data dan faktanya terlebih dahulu. Sikap ini juga mempersulit menemukan mufakat dalam musyawarah, karena bahkan musyawarahnya tidak sempat dilakukan karena terlalu cepat menyimpulkan sesuatu.

Ketiadaan Mutual Trust

Tim sejak sebelum terbentuk sudah terasa tidak memiliki mutual trust. Sebenarnya ini sudah saya rasakan sejak lama, namun saya paksakan saja untuk tetap mengajak dan berusaha mentolerir karakter tim yang lainnya karena saya anggap punya minat yang sama di bidang investasi syariah. Segala uneg-uneg saya pendam.

Ternyata saya semakin tidak tahan mentolerir karakter dan pola kerja tim yang lain dan mencoba mundur teratur. Awalnya saya pikir ini bukan bidang saya, tapi ternyata, saya bukan tidak cocok dengan bidang ini, tapi tidak cocok dengan timnya.

Selain ketidakmampuan saya mentolerir tim, tim yang lain juga tidak mampu mentolerir saya. Tim yang lain bahkan sampai blak-blakan menyebutkan kekurangan dan kelemahan saya di masa lalu yang tentu membuat mental saya jatuh. Hasil akhirnya bisa ditebak, terlalu banyak clash dan perbedaan pendapat di internal tim. Masalah yang kecil berupa perbedaan pendapat jadi merembet-rembet ke masalah lainnya. Akhirnya, tim tidak solid dan pecah. Padahal, kepercayaan dan kebersamaan adalah hal penting.

Akan sangat sulit jika setiap kesalahan dan perbedaan dihadapi dengan tuduhan dan sikap menyalahkan.

Ketidaksiapan Tim untuk Jatuh-Bangun

Dalam artikel ini, dikatakan bahwa tim pertama haruslah orang yang benar-benar saling percaya dan mau membersamai kita menghadapi berbagai tantangan. Tantangan dalam besarnya operasional jika ingin scale-up, tantangan untuk menghadapi legalitas, tantangan untuk siap membayar pajak, tantangan untuk membuat dokumen-dokumen penting di awal, tantangan menggaet badan usaha baru, dan yang lainnya harus siap ditanggung oleh seluruh tim pertama. Namun saat itu tidak semua tim siap menanggung berbagai resiko dan tantangan tersebut, karena pembagian saham sama besar dan tidak ada mutual trust, tentu sulit tercapai mufakat.


Akhirnya, setelah melakukan diskusi dengan beberapa teman dekat pengelola usaha yang sudah berkembang, ternyata masya Allah. Awalnya, saya pikir saya ini sampah yang tidak berarti yang terus menerus melakukan kesalahan. Berat sekali struggling menghadapi perasaan-perasaan rendah diri dan sakit hati. Namun teman-teman tersebut membesarkan hati saya dan meluruskan pandangan saya.

Suami saya juga alhamdulillah, bahkan beliau adalah orang pertama yang membela dan mendukung saat saya di masa-masa sulit menghadapi masalah. Ah, senangnya punya teman sejati, yang membantu membasuh dan membesarkan hati saat kita jatuh tersakiti.

Saya melakukan istikharah setiap hari terus meminta petunjuk dan tanda dari Allah apakah usaha ini lebih baik diteruskan. Waktu berjalan dan ternyata saya mendapat beberapa proyek investasi lagi untuk ditawarkan ke calon investor dan dikelola. Sepertinya, Allah ingin saya untuk mencoba melanjutkannya. Jadi saya buat brand baru, NABITU ID, artinya “yang tumbuh”. Saat ini web appnya bisa diakses di app.nabitu.id, dan instagramnya di sini.

Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.QS 47:7

Bagaimana kelanjutan usaha ini?

Wallahu a’lam.

Sebenarnya pengalaman ini tidak ada apa-apanya sih haha. Lebih baik membaca kisah perintisan berbagai start-up yang sudah jauh lebih besar. Tapi, semoga bisa membawa manfaat walaupun sedikit bagi teman-teman pembaca.

Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.


Diselesaikan di Tangerang, 5 Maret 2021.
Oleh: Nurfitri Anbarsanti

You may also like...

1 Response

  1. November 18, 2021

    […] bukan melalui dia, tapi dia menganggap saya mengambil link dia. Fyuh. Memang jika tidak ada mutual trust, sebuah tim tidak akan bertahan […]

Leave a Reply

Your email address will not be published.