Profesionalisme Membawa Keberkahan


Beberapa waktu lalu, di saat pagi-pagi masih sering menyuapi anak di taman, ada kesempatan mengobrol dengan salah satu pengasuh anak. Beliau sudah sepuh, berkerudung, dan sederhana.

Keliatannya, kok beliau ngasuh anaknya telaten dan shabar banget. Rasanya membuat kita percaya menitipkan anak ke beliau. Kayaknya diasuh oleh beliau akan lebih bagus daripada diasuh oleh kita sendiri 😅 sungguh menginspirasi.

Beliau cerita bahwa anak-anak yang diasuhnya sering jadi juara dan dapat banyak piala. Wah, anak-anak yang diasuh oleh selain orang tua ternyata bisa sangat membanggakan karena kualitas pengasuhannya…

Beliau juga cerita bahwa dia sebenarnya sudah tidak ingin kerja, tapi dibujuk terus oleh majikannya utk membantu mengasuh anak mereka. Sy mikir “ya iya lah, masa orang seperti ini dilepas…”

Sampai majikannya rela mengHAJIkan pengasuh tersebut beberapa tahun yang lalu. Hajinya haji furoda lho, haji yang membutuhkan sekitar 200 juta lebih untuk berangkat langsung di tahun itu.

Masya Allah. Bisa jadi inilah salah satu buah dari bekerja secara tulus dan profesional apapun pekerjaannya. Siapa sangka pekerjaan yang sering dianggap rendah, yaitu mengasuh anak kecil, ternyata membuahkan bonus haji berangkat langsung. Yang kalau ditabung pakai gaji bulanannya, tidak mungkin tercapai.

Bonus haji merupakan wujud keberkahan dari pekerjaannya…

Sy pun kalau jadi majikan beliau, membayangkan akan rela dan sering memberikan beliau bonus, karena ridho dan senang dengan pekerjaan beliau. Ketenangan saat menitipkan anak itu hal yang sangat mahal.

Di sisi lain, kalau ada pegawai yang kerjanya setengah-setengah, gimana majikan mau kasih bonus? Wong majikannya harus berkali-kali turun tangan menyelesaikan pekerjaannya. Niat mau kasih bonus, gak jadi deh karena terlanjur kecewa dengan kualitas pekerjaannya. Kalaupun dikasih bonuspun, mungkin bonus tersebut akan “habis” oleh pengeluaran lain yang tidak disangka-sangka karena Allah yang tidak ridho dan mengurangi keberkahan gaji dan bonusnya…

Kadang heran, di masa pandemi ini, masih ada aja yang picky dalam bekerja, juga picky dalam makanan. Dapat pekerjaan dan dapat makan aja sudah Alhamdulillah. Tapi ada aja yang masih pilih-pilih.

Kerjanya bagus di pekerjaan yang dianggap bergengsi saja. Kalau ada pekerjaan yang tidak disenangi atau derajatnya dianggap rendah, kerjanya nggak tuntas. Kalau dikasih makan tempe, responnya “Oh tempe lagi..”.

Bukankah kita bisa memilih untuk maksimal dan mensyukuri apa yang dihadapi saat itu? Kenapa masih berpikir ingin pekerjaan yang lain, sementara pekerjaan di depan mata enggak dikerjakan maksimal? Bukankah Allah mencintai orang yang bekerja dengan profesional?

Hadi Wenas, seorang lulusan Stanford yang beberapa kali menjadi CEO, pernah mengatakan bahwa dia menjaga etos kerja dia apapun pekerjaannya walaupun “cuma” gosok kamar mandi. Walaupun cuma gosok kamar mandi, dia akan kerja sebaik mungkin, sebersih mungkin. All out in everything he do. Satu hal baik yang bisa dicontoh.

Natali Ardianto, salah satu founder tiket.com, pernah cerita bahwa karyawan-karyawan awal di Tiket.com yang rela digaji “kecil” di awal-awal berkembangnya tiket.com malah akhirnya mendapatkan jabatan yang tinggi sekarang di perusahaannya masing-masing.

Orang yang menghadapi apapun jenis pekerjaannya (selama jujur dan halal) dengan maksimal dan profesional di depan matanya, insya Allah lebih berkah, lebih dicintai Allah dan will be having better endings.

NB: Oya ini konteksnya apapun pekerjaan yang halal, misal cuci piring vs. programming. Beda kalau konteksnya pekerjaan halal vs pekerjaan haram. Kalau harus melakukan pekerjaan haram misalnya memanipulasi data, sembunyi untuk melanggar aturan atau mengambil yang bukan haknya, wajib ditinggalkan itu mah…

You may also like...

1 Response

Leave a Reply

Your email address will not be published.