Review Kuttab Al Fatih

Assalamualaikum.

Anak pertama kami, kami sekolahkan di Kuttab Al Fatih Tangerang sesaat setelah puncak pandemi di Indonesia, sekitar bulan Juni-Juli 2021. Motivasi kami pada awalnya ingin agar anak bisa terdorong untuk gemilang di usia belia, sesuai dengan visi dan slogan Kuttab Al Fatih. Melalui tulisan ini, saya ingin berbagi pendapat saya mengenai Kuttab Al Fatih.

Disclaimer: Kami baru menjalani pendidikan di Kuttab Al Fatih sekitar 1 semester, di mana waktu itu sebenarnya waktu yang mungkin terlalu sebentar untuk memberikan review. Anak kami berumur 5 tahun dan masuk kelas Kuttab Awal 1.

1. Terasa sekali tidak profit oriented.

Kuttab Al Fatih punya visi untuk menghidupkan sistem pendidikan di masa kejayaan Islam, di mana pendidikan saat itu gratis. Oleh karena itu, tanah untuk bangunan sekolah diperoleh dari wakaf, dan ada divisi di sekolah yaitu Baitul Maal Khatulistiwa yang (seingat saya) punya badan usaha atau mengelola dana untuk mensupport kegiatan sekolah. Namun pendidikan gratis sepertinya belum bisa dicapai untuk saat ini, sehingga pihak KAF masih menarik SPP (700 ribu) dan Iuran masuk (11 juta) dari wali santri.

Walaupun belum gratis, namun terasa sekali aura pendidikannya tidak profit oriented, dibandingkan sekolah yang sebelumnya.

Di studium generale, disampaikan bahwa pendidikan Islam di 800 tahun lalu gratis. Para ulama lahir dari pendidikan yang gratis namun berkualitas. Saat ini, pendidikan gratis ada di Kanada, UK, Canada. Inilah masa di mana islam tidak dimiliki oleh umat Islam. Pendidikan adalah wilayah wakaf dan non-profit. Tanah wakaf adalah tanah milik Allah, oleh karena itulah Kuttab menggunakan tanah wakaf.

2. Keimanan dan nilai-nilai perjuangan ditanamkan di setiap kegiatan anak.

Saat berhitung, digunakan bahasa-bahasa ayat dan ibadah. Misal, dua rakaat dhuha ditambah dua rakaat dhuha jadi berapa. Saat melakukan prakarya, anak-anak ditanamkan bahwa Allah-lah yang membuat ananda mampu membuat prakarya. Sebelum pendidikan dimulai, ada agenda ikrar di mana isinya adalah syahadat dan penanaman tauhid. Sebelum pelajaran olahraga, anak-anak dikisahkan bahwa tujuan dari berolahraga adalah untuk berjuang di jalan Allah, membela agama Allah.

3. Islamic life skills (adab, ibadah) diajarkan sejak dini.

Yang diajarkan di Kuttab adalah islamic life skills dasar yang memang penting untuk diajarkan dan dibiasakan sejak dini. Jangan kayak saya yang telat, yang baru mempelajari dan mempraktekannya sejak mulai kajian di kuliah. Contoh yang sudah diajarkan adalah tata tertib wudhu dan rangkaian adab sebelum tidur. Untuk mengontrol wudhu dan adab sebelum tidur, ada form BBO (belajar bersama ortu) di mana ortu diharuskan juga ikut mengajarkan hal-hal tersebut di rumah. Lembar kontrol BBO dikumpulkan dua minggu sekali.

4. Pendidikan Guru Kuttab

Sebelum menjadi guru di Kuttab, calon guru harus menerima pendidikan selama kurang lebih 4-6 bulan dengan biaya pendidikan kurang lebih 9 juta per guru. Biaya tersebut tidak ditanggung orangtua. Ini menunjukkan Kuttab sangat menjaga kualitas guru dan pendidikan.

5. Beberapa kegiatan anak berupa kajian dan sesi berkisah

Guru guru di Kuttab nampaknya merupakan aktivis dakwah yang menyampaikan islam dengan ruh, bukan seseorang yang keislamannya main-main. Sehingga anak terasa benar-benar ditarbiyah – dibimbing akhlak dan adabnya, bukan sekadar diajarkan ilmu calistung atau quran saja.

Di setiap hari jumat, ada sesi berkisah di mana anak-anak mendengarkan kisah-kisah dalam Al-Qur’an. Cocok bagi orangtua yang terbiasa kajian, dan mungkin akan kurang cocok bagi orangtua yang kurang biasa kajian. Kajian ini mungkin akan membosankan bagi anak-anak.

Untuk mengatasi hal tersebut, kisah-kisah perlu diceritakan kembali oleh ortu kepada anak. Kebetulan anak saya senang mendengar Umi-nya berkisah sampai saya kehabisan kata-kata karena dimintain cerita terus.

6. Perhatian kepada anak sangat besar

Karena satu kelas terdiri dari maksimal 12 anak, dan 12 anak dibimbing oleh 2 guru, maka perhatian kepada anak sangat besar. Ustadz dan ustadzah sangat memperhatikan karakter dan perilaku anak saat di kelas. Hal ini terlihat saat diskusi home visit di mana guru-guru mengunjungi rumah wali santri. Karakter dan perilaku anak sangat diamati dan diketahui oleh para guru.

7. Panggilan kepada anak, shalih dan shalihah

“Faqih shalih, duduk sayang”. Panggilan anak bukan “Faqih pinter” atau “Faqih cakep”.. tapi “Ananda shalih, ananda shalihah”. Panggilan yang sangat baik, yang juga berupa doa untuk anak-anak.

8. Banyak kegiatan bagi orang tua

Orangtua ada banyak kajian dan kegiatan yang wajib diikuti. Ada kajian per bulan offline, kajian per minggu online untuk ayah, kajian per minggu online untuk ibu, mabit 3 hari per semester untuk para ayah, futsal bagi para ayah.

9. Sangat menekankan adab

Kuttab sangat menekankan adab. Untuk menjaga adab kepada guru, jika wali santri ingin memberikan kritik kepada guru maka tidak boleh langsung kepada guru, tapi kepada kepala sekolah. Hierarki adab ini di satu sisi bagus karena menghindari perilaku orangtua yang sewenang-wenang kepada guru, juga untuk menjaga perasaan guru. Di sisi lain, masukan dan kritik yang sederhana saja disampaikan melalui birokrasi yang panjang dan rumit.  Selaini itu, untuk menjaga keberkahan, kepsek juga lebih prefer kritik disampaikan offline, tidak melalui telepon atau whatsapp. Tidak semua ortu punya banyak waktu seperti ini.

Ada pengalaman kurang mengenakkan bagi saya. Saya merasa ustadzah di kelas agak terlalu saklek dalam mengajarkan menulis. Misal, kok anak-anak tidak boleh menulis pakai titik-titik dan harus dipegangi tangannya. Kok anak-anak tidak boleh bicara bahasa Inggris. Lalu saya sampaikan hal ini kepada koordinator kelas (di mana pada saat itu kebijakannya seperti itu). Lalu korlas menyampaikan pesan saya kepada guru. Karena kejadian itu, saya dan suami sampai dipanggil dan dinasihati agar menjaga adab pada guru (padahal yang menyampaikan langsung ke guru adalah korlas, bukan saya). Selanjutnya, kebijakan direvisi yaitu masukan dan kritik di sampaikan melalui kepala Kuttab.

Dari pengalaman tersebut, nampaknya Kuttab memang melihat orangtua lebih sebagai sosok yang juga perlu dididik, daripada sosok partner dalam mendidik. Jika orangtua ingin menyampaikan sesuatu, maka siap-siap orangtua yang lebih harus menerima berbagai nasihat dari Kuttab hehe. Kita yang harus mengikuti kebijakan Kuttab daripada Kuttab yang mengikuti keinginan ortu. Walaupun Kuttab menerima masukan tersebut, hanya saja, terkadang sebagai orangtua hanya ingin didengarkan saja masukannya, sedang tidak ingin menerima nasihat hehe.

10. Variasi yang besar karena ada beberapa teknis yang diserahkan kepada asatidz.

Walaupun kurikulum sama dan serentak untuk seluruh Kuttab dan kelas, namun teknis mengajar lebih banyak diserahkan kepada asatidz. Oleh karena itu satu ustadz dan satu ustadzah yang lain di Kuttab bisa sangat berbeda pendekatan teknis dan kesungguhannya.

11. Pemahaman yang unik mengenai covid dan kesehatan.

Ini hal penting yang perlu saya bagikan karena unik hehe. Ini cukup mengagetkan bagi saya, bahwa ternyata pihak-pihak atasan Kuttab Al Fatih tidak terlalu mengacu pada kesehatan modern. Saya baru mengetahuinya setelah Kuttab melaksanakan pendidikan offline. Saya heran kok guru-guru tidak pakai masker dan tidak melaksanakan prokes lainnya. Juga kok tidak ada arahan atau pengumuman bahwa guru sudah divaksin.

Akhirnya saya sampaikan uneg-uneg di grup kelas bahwa sebaiknya ada prokes dan sebaiknya ada tracing vaksin untuk para guru. Setelah itu saya ditegur oleh sesama wali santri dengan tulisan bold bahwa jangan menyampaikan masukan langsung ke guru. Sebenarnya saya ngga memberi masukan ke guru di grup tersebut. Ya mungkin beliau mengingatkan aja. Saat itu saya baru tahu aturan tidak tertulis ini. Yasudah baiklah saya sampaikan uneg2 ini ke Kepala Kuttab.

Setelah bertemu Kepala Kuttab, beliau mengatakan bahwa kita jangan terlalu takut pada covid, karena tingkat keberbahayaan covid hanyalah zhon (prasangka). Vaksin itu disebarkan juga kita tidak tahu apa tujuannya, apakah vaksin hanya untuk jualan? Intinya, dari pihak Kuttab tetap akan menjalankan pendidikan offline dan tidak akan ada arahan vaksin untuk para guru. Jika adapun, paling arahan suntik probiotik siklus untuk para guru. KAF tidak akan mengarahkan guru untuk vaksin, jika mau vaksin, maka masing-masing saja.

Setelah panjang lebar beliau menjelaskan (sementara saya tidak sempat menjelaskan pendapat saya, dan saya harus segera menyusui bayi karena meninggalkannya terlalu lama), akhirnya saya izin agar anak saya boleh pakai masker atau face shield. Alhamdulillah diizinkan. Walaupun begitu, pendidikan di kelas berlanjut tanpa protokol kesehatan dan kemungkinan tanpa vaksin untuk para guru.

Setelah itu, akhirnya saya mengetahui bahwa kebanyakan atasan di Kuttab cenderung mengikuti ust. Zaidul Akbar dan lebih percaya pada herbal daripada kesehatan modern. Di mana posisi ini berbeda dengan posisi saya melihat kesehatan modern.

12. Hal-hal yang tidak tertulis

Ada hal-hal yang tidak tertulis yang baru diketahui setelah pendidikan berjalan, yang kadang menakjubkan, sekaligus mengagetkan.

  • Menyampaikan masukan dan kritik langsung ke kepala Kuttab, jangan langsung ke guru.
  • Anak-anak tidak dianjurkan mendapat les atau pendidikan luar lain selain dari Kuttab seperti les Bahasa Inggris dan TPA. Ini akan sulit jika anak sudah terlanjur ikut les di tempat lain. Atau sulit juga jika anak sudah iqro di rumah sampai jilid sekian, jadinya nggak match dengan metode Kuttab yang pakai Baghdadiyah.
  • Orangtua tidak diperkenankan untuk memberi masukan dan kritik sebelum 6 bulan pendidikan berjalan.

Memang setiap lembaga pendidikan memiliki kelebihan dan kekurangan.

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, alhamdulillah kami melihat hasil yang positif dari Faqih di sisi keimanannya.

  • Faqih menangis di kelas iman saat mendengar bahasan tentang akhirat.
  • Faqih tiba-tiba sering ingin membantu masak. Walaupun kebayang ya anak 5 tahun bisa bantu apa hehe. Bantu semangat aja alhamdulillah. Yang sering ada kan bantu ngacak-ngacak hehe.
  • Sering Faqih ngoceh seperti “Misykah, mau jadi kesayangan rasulullah ngga?”
  • Hafalnya Faqih dengan karakteristik neraka, seperti “di neraka banyak nanah, makanan berduri semua”.
  • Kadang juga Faqih bilang “ingin jadi pemuda (yang membela agama Allah), kapan ya Faqih jadi pemuda, Mi? Berapa tahun lagi?”
  • Faqih sangat teliti dalam menyela jari-jari saat wudhu.
  • Faqih selalu ingat kalau sebelum tidur harus berwudhu dulu.

Demikian, semoga tulisan ini bisa menjadi pertimbangan Bapak dan Ibu dalam mempertimbangkan Kuttab Al Fatih untuk sekolah anak-anak…

Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

You may also like...

3 Responses

  1. Rika Trisnawati says:

    Bismillah, mohon do’a y semoga tahun ini anakku lulus d terima jadi santri KAF
    meski aku kurang yakin sih, karena pas tes tulis santri y anakku nangis2 gk mau d tinggal sama mama y

  1. November 27, 2021

    […] cerita lainnya lagi yaitu ketika pihak-pihak berpengaruh di sekolah anak saya yang mengedepankan kurikulum iman dan Al-Qur’an ternyata anti vaksin, menganggap covid adalah […]

Leave a Reply to anbarsanti Cancel reply

Your email address will not be published.