Review TK Multi Inteligensia School, Tangerang

Tulisan ini menceritakan sebagian pengalaman saya mensekolahkan anak di TK Multi Inteligensia School, Tangerang. Lokasi sekolah berada di Jalan Majapahit Timur No. 25, Tangerang. Semoga bermanfaat bagi orang tua yang mencari pendidikan anak terbaik di daerah Tangerang Kota.

Saat masuk sekolah, sebenarnya anak saya belum cukup umur untuk masuk sekolah TK. Di bulan Agustus, saat itu umurnya baru 3,5 tahun, dan saya lagi sibuk-sibuknya persiapan ujian IELTS. Tapi tiba-tiba saat mengendarai motor, saya dapat sejenis ilham, “Kayaknya anak saya harus disekolahkan sekarang deh”. Setelah dikomunikasikan ke suami, suami setuju.

Lalu saya menelusuri web untuk mencari beberapa referensi sekolah di dekat daerah tempat tinggal di Tangerang. Di bulan Agustus, kebanyakan sekolah sudah tidak menerima pendaftaran murid baru. Namun ada beberapa sekolah yang masih menerima murid baru dan lalu saya hubungi satu per satu. Hati rasanya cenderung ke sekolah TK Multi Intelegensia Islamic School, mungkin terpengaruh dari blog ini juga. Setelah mengunjungi sekolahnya, alhamdulillah Faqih bisa diterima sebagai murid TK A walau umurnya masih 3,5 tahun dan walaupun kegiatan belajar-mengajar sudah berjalan 1 bulan.

Kok umur 3,5 tahun dimasukkan ke TK A? Karena menurut sy, anak sy sudah terbiasa dengan kegiatan belajar mengajar sambil bermain. Sejak umur 1 tahun 11 bulan, saya mendesign kurikulum sederhana yang terdiri dari calistung dan tahfizh yang dilakukan dari setiap jam 9 pagi sampai jam 12 siang. Jadi, rasanya sayang aja kalau masuk ke Play Group yang minim pembelajaran kognitifnya. Memang benar sih anak-anak itu justru otaknya berkembang saat bermain, tapi, saya ingin kognitifnya juga berkembang sejak lebih dini.

Nah setelah 6 bulan saya mengalami KBM berjalan, berikut ini ulasannya:

1. Proses KBM

Menurut saya, dari sisi pembiasaan keislaman pada anak, proses KBM yang dijalankan oleh TK Multi cukup ‘bagus’. Pagi hari anak-anak berbaris dan menyanyi. Lalu anak berdoa, di antaranya: hafalan al Qur’an, hafalan hadits, hafalan Asmaul Husna, hafalan doa-doa sehari-hari. Setelah berdoa, anak praktek berwudhu dan sholat dhuha. Lalu anak-anak masuk KBM utama yaitu sentra, yang terdiri dari sentra seni, sentra bahan alam, sentra bermain peran, sentra imtaq, sentra persiapan yang seluruhnya dirotate setiap hari. Setelah program sentra, anak-anak makan siang, lalu praktek wudhu, sholat zhuhur, dan hafalan al Qur’an. Saya menilai ‘bagus’ dari intensitas habit keislaman sehari-hari yang dibangun di anak-anak.

Sedangkan untuk baca, tulis, hitung, menurut saya kurang intens. Hanya dilakukan sekali saja setiap minggu, yaitu di sentra persiapan.

2. Guru-guru yang approachable

Berdasarkan pengalaman berkomunikasi dengan guru, guru-guru sangat terbuka dengan masukan dan sangat perhatian pada anak-anak. Kita tidak perlu kawatir anak kita akan diabaikan. Setiap kita tanya sesuatu mengenai perkembangan anak kita, mereka pasti menjawab dengan baik. Mereka juga mengetahui dengan detail perkembangan sosial-emosional anak kita, seperti bagaimana hubungan anak dengan teman-temannya, bagaimana respon anak ketika diberi pembelajaran tertentu, bagaimana progress anak saat ini.

Sosok Guru TK di sini sabaar banget, telaten, ceria, perhatian, penyayang.

3. Kegiatan di luar KBM tidak dikoordinir oleh sekolah, tapi oleh komite.

Komite sendiri adalah organisasi kecil yang, berdasarkan keputusan mendikbud, seharusnya terdiri dari perwakilan orangtua untuk memberikan pertimbangan dan masukan kepada sekolah. Komite bukanlah representasi dari pihak sekolah, namun komite itu adalah representasi dari pihak orangtua. Sehingga, seharusnya tugas komite bukanlah mengurus pelaksanakan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler anak yang seharusnya kegiatan tsb diorganisir oleh sekolah.

Di TK Multi, peran komite ini berbeda dengan sekolah lain. Sekolah mendelegasikan hampir seluruh program ekstrakurikuler (market day, outing, pentas seni) ke pihak komite untuk dikoordinir dan dilaksanakan dengan dana dari orang tua di luar SPP dan biaya tahunan. Pihak yang mengerjakan hal yang bukan tugasnya ini berpotensi menimbulkan masalah jika terjadi kesalahfahaman.

Pihak orangtua (yang diwakili komite) tidak seluruhnya berlatarbelakang profesi pendidik. Sehingga, pihak orangtua tidak mengetahui bagaimana konsep pendidikan sekolah, sehingga acara yang diperjalankan sering kali terkesan menjadi ‘program komite’, bukan ‘program sekolah’. Sepertinya memang sekolah tidak memiliki konsep atau idealisme bagaimana seharusnya program ekstrakurikuler dijalankan. Jadi, ya bagaimana pun konsep acara yang didesain oleh orangtua, itulah yang di-acc oleh sekolah.

Seperti yang kita tahu, tipikal emak-emak kan suka mengadakan kumpul-kumpul yang tujuannya untuk fun ya hehe. Jadi, acara yang dijalankan jadi agak lebih fokus pada pernak-pernik seperti kostum, dekor, dan lain-lain. Bagi orang yang cocok, akan oke-oke aja mengeluarkan sejumlah besar uang untuk fun. Tapi bagi sebagian orang, ya hal-hal terlalu fun-oriented ini belum jadi prioritas bagi mereka.

Selain itu, pihak komite menjadi perwakilan sekolah yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan program sekolah. Mereka tidak digaji. Bayangkan, dari mulai penggalangan dana, survey tempat, susunan acara, logistik, booking tempat dan akomodasi semua diurus komite secara volunteer. Semoga pihak komite yang melakukan ini semua diganjar kebaikan oleh Allah. Namun, hal ini bisa jadi pertanyaan tersendiri bagi sekolah. Mengapa sekolah tidak mengkoordinir program ekstrakurikuler ini? Bukankah ini adalah kewajiban sekolah, bukan kewajiban komite?

Setelah ditelusuri, program ekstrakurikuler yang dikoordinir oleh orangtua ini bertujuan agar dana lebih transparan. Katanya, 4 tahun yang lalu, kegiatan sekolah dikoordinir oleh sekolah. Namun orangtua banyak yang komplain karena dana terlalu besar dan juga tidak transparan. Akhirnya, pihak sekolah dan pihak orang tua memutuskan program ekstrakurikuler dikoordinir oleh komite sekolah demi transparansi dana. Hem ya bisa dimengerti sih alasan ini.

4. Sulitnya menyampaikan aspirasi kepada pihak sekolah.

Seperti yang disebutkan di poin sebelumnya. Karena pihak komite secara volunteer melaksanakan program dan menagih uang ke orang tua, hal ini menimbulkan kesalahpahaman di antara orangtua. Muncul pertanyaan seperti, “kok keputusan ada di komite semua, bukan di sekolah?”

Akhirnya ada seorang ibu yang menyampaikan keberatannya beberapa kali ke pihak sekolah. Namun sayangnya, kepala sekolah lebih mengikuti apa kata komite daripada pendapat ibu tsb yang dianggap hanya ‘segelintir’ orangtua yang tidak setuju dengan keputusan komite. Memang yang berani speak up hanya segelintir (baca = satu orang), namun di balik itu, sebenarnya banyak orangtua yang sudah lama tidak setuju dengan manajemen TK Multi seperti ini. Namun mereka diam aja, menjauhi konflik. Lalu mereka diam-diam memindahkan sekolah anak-anaknya.

Di kali lainnya, pernah ada orangtua yang bertanya ke pihak sekolah untuk konfirmasi mengenai penyaluran dana renang anak-anak yang tidak jadi dilaksanakan tiga kali. Namun, apa yang dikatakan pihak sekolah?

Pihak sekolah mengatakan bahwa orangtua tidak berhak mengatur dan mengetahui bagaimana penyaluran uang sekolah sama sekali. Keputusan semua ada di sekolah (walaupun kenyataannya sering menyerahkan pelaksanaan program sekolah ke komite). Pihak sekolah juga mengatakan jika sudah tidak percaya dengan sekolah ini, silakan cari sekolah lain aja. Uang bangunan yang sudah diberikan tidak bisa kembali. “Silakan cari sekolah lain saja yang cocok dengan ibu”. “Rejeki di tangan Allah, kami tidak apa-apa kehilangan 1-2 murid”.

Padahal, orangtua tersebut hanya tanya mengapa tidak ada renang lho. Orangtua tidak tanya detail uang sekolah disalurkan untuk apa aja, hanya tanya kenapa tidak ada renang. Tapi respon pihak sekolah seperti itu. Tidak bisa dijelaskan baik-baik aja mengapa tidak ada renang. Dan malah ‘mengusir’ orangtua murid yang sudah susah payah mengusahakan pembayaran SPP dan BPP tepat waktu dengan jumlah yang cukup besar dibandingkan sekolah lain. Sebagai orangtua yang telah membayar biaya pendidikan, orangtua diperlakukan seperti ‘bawahan’, bukan ‘customer’.

“Jika sudah tidak percaya, silakan cari yang lain”. “Orangtua tidak berhak mengatur dan mengetahui bagaimana penyaluran uang sekolah sama sekali”. Perkataan-perkataan seperti itu bukannya meningkatkan kepercayaan, malah menghilangkan kepercayaan orangtua kepada pihak sekolah. Sayang sekali tidak mudah pindah sekolah. Kalau bisa, ya tentunya saya mau pindah sejak dulu. Selain biaya masuk cukup besar, proses adaptasi anak dari mulai pendaftaran, seragam, guru dan teman juga tidak sederhana. Sikap pimpinan sekolah dalam hal pendanaan ini sangat mengecewakan.

Sikap berkomunikasi ‘silakan cari yang lain’ ini rasanya kurang pantas dimiliki oleh baik seorang stake holder pendidikan atau seorang penyedia jasa. Ketika dia menemukan seorang siswa atau customer kritis yang hanya bertanya mengenai sebagian kecil haknya, dia enggan menjelaskan dan lalu mengatakan, ‘pergi sana, silakan cari yang lain’. Sebaiknya sikap ini segera diperbaiki, jangan jadi kebiasaan di kalangan pendidik.



Evaluasi untuk selanjutnya, kita sebagai orangtua memang harus survey sekolah-sekolah dengan mengunjungi langsung dan bertemu pimpinan sekolah untuk mengetahui dengan benar bagaimana karakter proses KBM dan manajemen sekolah dilaksanakan. Karakter pimpinan sekolah sangat berpengaruh, karena dialah ‘otak’ dari hampir seluruh keberjalanan program pendidikan. Apakah sekolah itu terlalu money-oriented atau sedikit saja lebih berorientasi pada pendidikan. Sayangnya dulu saya tidak sempat survey ke beberapa sekolah untuk membandingkan karena sudah tutup masa pendaftaran dan sibuk persiapan ujian.

Sebenarnya bagi orangtua yang ‘selow’ dan memiliki dana yang berlimpah, point nomor 3 dan nomor 4 tidak akan jadi masalah, insya Allah.

Adapun jika hanya fokus di point 1 dan 2, alhamdulillah perkembangan anak saya di TK Multi cukup bagus. Hafal Asmaul Husna, beberapa hadits, surat dan doa-doa sehari-hari. Vocabulary dalam percakapan juga bertambah sangat banyak. Selain itu bunda-bunda guru di TK Multi juga sangat baik. Barokallah bunda-bunda guru TK Multi…

Memang ada ekspektasi yang belum terwujud. Namun, ekspektasi pendidikan tersebut sepertinya tidak akan pernah dapat diwujudkan oleh sekolah luar, dan hanya bisa diwujudkan oleh tangan-tangan kita sendiri – tangan-tangan ibu kandung yang menyayangi dan mendidik anak-anaknya tanpa syarat…

Berlanjut di sini

You may also like...

3 Responses

  1. March 17, 2020

    […] ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya . 5. Doesn’t fit to Nerd Moms.. Nerd moms won’t be […]

  2. November 17, 2021

    […] Walaupun belum gratis, namun terasa sekali aura pendidikannya tidak profit oriented, dibandingkan sekolah yang sebelumnya. […]

  3. December 9, 2021

    […] ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya . 5. Cocok untuk Mama […]

Leave a Reply

Your email address will not be published.