Review TK Multi Inteligensia (2)

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya .

5. Cocok untuk Mama Sosialita

Apakah mama termasuk yang suka nge-mall, dan perayaan-perayaan? Nah kayaknya cocok di TK Multi. Karena menurut saya kegiatan di sini banyak yang menyenangkan dan penuh pernak pernik. Hampir seluruh anak merayakan ulang tahun di sini. Wisuda juga di gedung kok. Kostum dan dekor diusahakan bagus, heboh dan keren.

Mama suka baca buku, ingin anak menjadi pencinta buku, pencinta sunnah, beradab mulia dan hidup zuhud? Nah kemungkinan besar harus cari sekolah lain. Tidak banyak buku di sekolah.


6. Perkembangan Calistung Anak Tidak Terlalu Berkembang

Karena menggunakan kurikulum sentra, jadi calistung hanya dipelajari 1x seminggu. Apakah ini cukup? Tentunya tidak. Saat anakku masuk TK Multi, dia sudah hafal seluruh alfabet dan seluruh hijaiyah. Namun, setelah 7 bulan di TK Multi, banyak hafalan alfabet dan hijaiyah yang terlupakan.. Sayang banget kan….

Memang sepertinya kurikulum sentra ini perlu dipertimbangkan lagi deh oleh Mendikbud Indonesia. Metode sentra itu diadaptasi dari seorang praktisi pendidikan dari U.S, namun, apakah itu yang terbaik? Kenapa tidak mengadaptasi kurikulum Singapore karena Singapore memiliki score PISA tertinggi di dunia? Atau, kenapa tidak mengadaptasi montessori? Atau full Al-Qur’an seperti Kuttab al Fatih?

Bagi ortu yang beranggapan, ‘anak usia dini jangan diajari calistung, nanti stress’, pasti cocok dengan TK Multi, karena TK Multi pun berpendapat calistung jangan terlalu intens di usia dini (berdasarkan ucapan sekolah).

Bagi ortu yang beranggapan, ‘calistung itu penting dong, harus bisa baca sebelum masuk SD’, sepertinya TK Multi kurang cocok. Karena akhirnya bbrp anak struggling untuk ujian masuk SD dan ada beberapa ortu TK Multi yang harus mencari les tambahan seperti BIBA agar anak bisa membaca.

7. Orangtua harus proaktif secara finansial

Saat viral munculnya virus corona di Indonesia, beberapa orangtua murid langsung meminta ke pihak sekolah untuk menyediakan hand sanitizer dan meminta agar anak jangan bersalaman dengan bunda guru. Pihak sekolah menyediakan satu botol hand sanitizer dan menganjurkan utk tawakkal kepada Allah 😯 Akhirnya ada pihak orang tua yang secara volunteer menyumbang hand sanitizer sebanyak 4 Liter.

Hal ini berbeda sekali ketika kulihat di KUMON, kepala kursusnya sigap menginstruksikan tamu, pegawai utk selalu cuci tangan. Hand sanitizer disediakan Kumon. Kebanyakan pegawai Kumon juga memakai masker.

Suatu kali, ada seorang bunda guru yang bercerita bahwa beberapa kali bunda-bunda guru mengadakan kegiatan prakarya dan mengajukan gantinya ke sekolah. Namun sekolah enggan mengganti biaya-biaya kegiatan tersebut. Sikap ini membuat bunda-bunda guru sakit hati terhadap sekolah. Akhirnya, pihak komite bersikap proaktif menalangi kekurangan bunda-bunda guru.

Banyak masalah/kegiatan di sekolah terselesaikan karena sikap proaktif dan dermawan dari pihak komite orangtua. Ortu dituntut proaktif untuk menutupi kekurangan-kekurangan dana di sekolah. Jika ada masalah keuangan, kalau komplain atau sekadar bertanya akan menimbulkan masalah dengan sekolah. Jadi, sikap terbaik adalah proaktif menutupi kekurangan2 tersebut.


Karena nilai-nilai di keluarga kami dan nilai-nilai di TK Multi Inteligensia berbeda, akhirnya kami memutuskan untuk memindahkan anak kami, padahal belum selesai sekolahnya. Tentu tidak mudah, bercampur aduk perasaan antara sedih, marah, dan kecewa. Tapi salah saya juga karena tidak sempat survey dan membandingkan, tidak sempat bertemu kepala sekolahnya dulu dan langsung masukin aja. Tapi ya sudah, jadi pembelajaran dan aku serahkan semua kepada Allah.

Demikian review singkat mengenai TK Multi Inteligensia Islamic School di Tangerang. Semoga bermanfaat bagi orangtua yang sedang mencari sekolah, dan semoga bermanfaat bagi pihak sekolah untuk evaluasi.

You may also like...

No Responses

  1. March 17, 2020

    […] Berlanjut di sini […]

Leave a Reply

Your email address will not be published.