Setelah fenomena bermudah-mudah dalam menghakimi orang ini…

Tulisan ini merupakan akhir dari tiga tulisan sebelumnya, yaitu ini, ini, dan ini.

Tegaskan saja mereka muslim dan saudara seperjuangan dalam da’wah

Setiap orang yang menunjukkan ciri-ciri keislaman dan mengakui sebagai muslim adalah muslim, baik dia bersantai-santai atau bersungguh-sungguh, bergelimang maksiat atau sibuk dalam taat. Maka setiap muslim, terutama yang berada dalam harokah da’wah adalah saudara seperjuangan, baik di harokah konservatif seperti Tarbiyah, Hizbut Tahrir, Salafy; maupun harokah anak muda kontemporer seperti Shift, Yukngaji.id, Cinta Quran Center, Syameela Channel, Tafaqquh, Akhyar – seluruhnya semuanya muslim, berusaha hijrah dan menghijrahkan, mujtahid yang berusaha sesuai Al Quran dan As Sunnah.

Jangan sampai, sementara berbagai harokah tersebut berusaha bersatu padu dalam tabligh dan syi’ar, berkolaborasi membuat proyek-proyek besar, membina dan mengajak, menjaring ribuan sampai jutaan massa masyarakat, dan hasilnya, berbondong-bondong kaum muda dibimbing sedikit demi sedikit menuju Islam – terdapat sebagian anggota harokah yang tertinggal dengan kebingungan, apakah mereka muslim atau tidak, boleh belajar pada ulama atau tidak, jika ada adzan lebih baik berangkat ke masjid untuk sholat berjamaah atau tidak??!

Semua ini disebabkan karena kurangnya Ilmu Diniyah

Salah satu penyebab pemahaman ini masih menjangkit kuat dalam organisasi tersebut adalah, selain menganggap orang luar organisasi adalah belum muslim sebenarnya (ini samar sekali, jadi ‘belum muslim sebenarnya ini’ apa, muslim atau bukan?), yaitu doktrin kuat bahwa anggota tidak boleh ‘makan’ di luar, selain itu juga tidak didorong bahkan sering dilarang untuk banyak berfikir dan bertanya. Sehingga budaya literasi dan berdiskusi menjadi sangat minim.

Sulitnya pemahaman ini berubah, karena mereka nampaknya juga lebih fokus dengan kedudukan, kekuasaan dan uang atas umat, bukan ingin mencari, mempelajari dan melaksanakan kebenaran sesuai Al Quran dan As Sunnah untuk mendapatkan ridho Allah.

Oleh karena itu, sebelum terkena berbagai pemahaman yang menyimpang, belajarlah! Jangan takut apalagi ragu untuk mendatangi berbagai kajian. Tanya dan dekati para ulama.

Barangsiapa yang meniti suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan menuju surga, dan para malaikat akan mengayominya dengan sayap-sayap mereka karena ridho kepada penuntut ilmu, seluruh penduduk langit dan bumi bahkan ikan paus di laut pun akan memintakan ampun bagi seorang ‘alim. Keutamaan seorang ‘alim dengan ahli ibadah bagaikan bulan dengan seluruh bintang-bintang, sesungguhnya para ‘ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, melainkan mereka hanya mewariskan ilmu, maka barangsiapa mengambil ilmu tersebut, ia akan mendapatkan keuntungan besar.”1

Tentunya setelah mengkaji mengenai hal ini, penulis seperti tertampar keras, bahwa kesalahan pemahaman mengenai syahadat dan bai’at ini disebabkan oleh salahnya niat dan kurangnya ilmu diniyah yang sangat mendasar, sehingga setelah sekian tahun, masih saja salah dalam memahami dan menyampaikan – dan kesalahannya begitu fatal, sampai bisa membatalkan keislaman diri. Naudzubillah..

Penulis memohon maaf sebesar-besarnya bagi yang pernah salah tersampaikan, juga penulis memohon ampun kepada Allah, menyesal se menyesal-menyesalnya atas kebodohan penulis dalam Islam.. Semoga Allah membuka hati dan menunjukkan kebenaran pada kita semua…

Kesimpulan

  • Praktek syahadat yang dipraktekan oleh sebagian organisasi tidak memiliki dalil dan hujjah yang shahih dan kuat; tidak dicontohkan oleh anak dan cucu Nabi Muhammad , para Shahabat dan Tabi’in.

  • Praktek syahadat yang dilakukan selama ini merupakan praktek yang berbahaya2, karena jika seseorang yang diajak bersyahadat sebelumnya sudah muslim, maka orang yang mengajak telah memvonis bahwa sebelum bersyahadat dia itu kafir, dan barang siapa yang mengkafirkan seorang muslim, maka kekafiran itu akan berbalik kepadanya.

  • Tidak ada istilah “tidak dapat disebut”, atau “kondisi antara muslim dan non-muslim”, atau kondisi antara mu’min dan non-mu’min dalam hukum Islam.

  • Anak yang lahir dalam keluarga Islam adalah muslim, kecuali orangtuanya atau anak itu sendiri yang merubahnya. Siapapun yang menunjukkan ciri-ciri keislaman, maka dia adalah muslim.

  • Bai’at dan syahadat memiliki definisi dan konsekuensi yang jauh berbeda. Bai’at adalah janji setia untuk taat kepada pemimpin, sehingga konsekuensinya adalah menjadi anggota atau menggenggam amanah di sebuah organisasi, sedangkan syahadat merupakan gerbang keislaman, sehingga konsekuensinya adalah menjadi muslim.

  • Menuntut ilmu diniyah dengan niat yang lurus dengan dibimbing para ulama adalah wajib bagi seorang muslim untuk menghindari berbagai pemahaman yang menyimpang.

Referensi:

1 Hadits Riwayat Ahmad no. 20723, diakses melalui Ensiklopedi Hadits.

2 Berdasarkan pendapat para ulama kontemporer di Indonesia mengenai hal ini seperti Ust Firanda Andirja, Buya Yahya, Ustaz Abdul Somad yang dapat diakses melalui youtube: https://youtu.be/QIc5SzGchRA, https://youtu.be/m_SF-T-6QpM, https://youtu.be/IpHFAkcxh7c, https://youtu.be/QIc5SzGchRA, https://youtu.be/v8W6NUcLY0M

You may also like...

No Responses

  1. Sherlocked says:

    Pertanyaannya, jika kita menuduh kafir orang lain, sedangkan ia tidak kafir maka statusnya akan kembali ke penuduh. Jika posisi kita sebagai penuduh tersebut, apa yg perlu dilakukan setelah menyadari bahwa kita salah?

Leave a Reply to Sherlocked Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *