Suami di Surga

Saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca do’a dalam shalat jenazah: “Ya Allah, Ampunilah dia, berilah rahmat kepadanya, maafkanlah dia dan selamatkanlah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), pasangan yang lebih baik daripada pasangannya (di dunia), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka lindungilah ia dari siksa kubur atau siksa api neraka”). Auf berkata; “Hingga saya berangan seandainya saya saja yang menjadi mayit itu, karena do’a Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada mayit tersebut.” ( Hadits Riwayat Muslim, no. 1601)

“Pasangan yang lebih baik daripada pasangannya di dunia”

Jika seorang suami (dari dunia) yang masuk surga mendapatkan istri-istri baru berupa bidadari-bidadari yang diciptakan langsung, apa yang didapatkan oleh seorang istri (dari dunia) yang masuk surga?

Hal yang manusiawi jika sebelum menikah kita memiliki ekspektasi dan idealisme, namun setelah menikah kita kecewa karena idealisme dan ekspektasi tersebut tidak kita temukan dan sulit diwujudkan. Sebelum menikah kita sudah kerja keras memperbaiki diri, menjaga hati, menjaga jangan sampai ada hubungan sebelum halal. Eh, setelah menikah, ternyata pasangan kita tidak menjalani proses perbaikan super keras yang sama dengan yang kita alami. Yang satu sudah dibanting, dipukul-pukul, dipanggang sampai menjadi tembikar, yang satunya masih berupa tanah liat yang belum dibentuk dan dipanaskan. Ketimpangan selalu ada, tidak ada orang yang sama.

Sekarang ini akhir jaman, gaes, untuk sukses berproses menuju menikah tanpa pacaran atau suka-sukaan saja sangat sulit, apalagi berjodoh dengan pasangan yang mendekati Rasulullah saw atau Khadijah, pasti lebih sulit lagi! Kita saja tidak mampu seperti mereka (Nabi, shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in) kan, apalagi pasangan kita? Apakah kita bisa mengubah hati dan pribadi seseorang?

Sepertinya… Allah Maha Tahu bahwa ketimpangan dalam rumah tangga pasti akan ada. Antara suami yang tidak bisa memenuhi ekspektasi istri, atau istri yang tidak bisa memenuhi ekspektasi suami. Realitanya, kebanyakan istri yang tidak bisa memenuhi ekspektasi suami. Seperti kata Rasulullah saw “akan tetapi, sedikit sekali di antara kamu yang mampu melakukannya”, saat ditanya oleh para shahabat, mengapa banyak wanita masuk neraka. Lalu jika ekspektasi tidak terpenuhi apakah lebih baik cerai ? Tentu tidak… Oleh karena itu Allah menjanjikan bidadari-bidadari surga dan pasangan yang baru di surga, untuk memenuhi imajinasi dan angan-angan kita bahwa setelah ini, akan ada kehidupan indah – bersama pasangan baru, rumah baru, keluarga baru – yang jauh lebih baik dari pasangan, rumah dan keluarga kita saat di dunia yang sementara ini. Iya dunia ini sementara bro, sis, shabar aja ya bertahan sebentar lagi!

“Pasangan yang lebih baik daripada pasangannya di dunia”

Jika seorang suami (dari dunia) yang masuk surga mendapatkan istri-istri baru berupa bidadari-bidadari yang diciptakan langsung, apa yang didapatkan oleh seorang istri (dari dunia) yang masuk surga?

Saya punya satu orang kecengan. Dari semua tokoh sejarah yang saya pelajari, entah kenapa, sejak melihat wajahnya, kisah hidupnya, serta tulisan-tulisannya – saya merasa tertarik dan ingin jadi istri beliau sampai sekarang. Sayangnya beliau meninggal di tahun yang sama saat saya lahir. So tidak mungkin saya bertemu dengan beliau di dunia ini, tapi sangat mungkin saya akan bertemu beliau di akhirat nanti. Ya Allah, jika nanti saya masuk surga, saya ingin dijodohkan dengan beliau, Abdullah Yusuf Azzam.

abdullah azzam

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.