Tetang Membuka Aib – Kesalahan Interview

Kemarin, saya menyadari bahwa penyebab saya gagal dalam sebuah interview adalah saya membuka aib institusi lama tempat saya bekerja.

Waktu saya membicarakan hal itu di depan interviewer, sebenarnya tujuan saya adalah saya ingin menunjukkan bahwa saya berusaha menjunjung tinggi kejujuran. Sehingga saya memperjuangkan idealisme saya untuk bersikap jujur di tempat kerja, di mana justru karena perbedaan idealisme dengan kebanyakan kolega di tempat kerja, maka saya menemui kesulitan. Hal ini saya ceritakan waktu ditanya kapan momen paling rendah atau paling sulit yang ditemui selama bekerja.

Namun ternyata, justru niat saya ini malah jadi cela dan celah besar. Saya jadi membuka aib institusi lama tempat saya bekerja tanpa mengemasnya dengan baik, yang baru saya sadari setelahnya. Kesalahan ini menutup seluruh kebaikan saya yang saya tampilkan di CV, essay, portofolio, jumlah publikasi yang sudah ditulis, pengalaman riset yang sudah pernah dijalani dan lainnya.

Saya jadi ingat ada yang memberi nasihat, “Jika kamu membuka aib tempat kerja, maka sama saja kamu membuka aib dirimu sendiri”. Ini benar. Saya pun melihat orang yang membicarakan keburukan seseorang atau sesuatu, nampaknya kok hanya yang buruk saja yang bisa dia bicarakan tentang orang lain, atau kok hanya sibuk membicarakan orang, tidak membicarakan ide dan tujuan yang ingin dicapai.


Saya juga jadi ingat kisah Nabi Ibrahim yang meminta Nabi Ismail menceraikan istri pertamanya. Jadi, kisahnya kurang lebih begini. Nabi Ibrahim mengunjungi rumah Nabi Ismail. Namun waktu itu, yang membuka pintunya adalah istrinya (yang pertama). Nabi Ibrahim bertanya bagaimana kondisi keluarga dan rumah tangganya? Istrinya mengatakan bahwa kehidupan rumah tangganya penuh dengan kesulitan dan kesusahan. Mendengar jawaban tersebut, Nabi Ibrahim menitipkan pesan kepada Nabi Ibrahim untuk mengganti daun pintunya. Nabi Ismail mengerti maksud pesan itu adalah untuk menceraikan istrinya, maka Nabi Ismail pun kemudian menceraikan istrinya.

Awalnya, saya pikir Nabi Ibrahim menginstruksikan demikian disebabkan karena istri pertamanya itu kurang bersyukur dan kurang qonaah. Ternyata bukan hanya itu, istri pertamanya telah membuka aib keluarga.

Akhir yang berbeda dialami oleh istri yang berbeda. Nabi Ismail kemudian menikah lagi dengan istri yang berbeda. Nabi Ibrahim mengunjungi kembali rumah Nabi Ismail ketika Nabi Ismail sedang pergi, lalu bertanya kepada istri Nabi Ismail, bagaimana kondisi rumah tangga dan keluarganya. Istri yang ini menjawab bahwa keluarganya berada dalam kecukupan dan kebahagiaan.

Kali ini saya memandang kisah itu sangat berbeda. Bisa saja kondisi Nabi Ismail sama-sama saja, rumahnya sama, penghasilannya sama, dan kesulitan yang dialami oleh kedua istri tadi juga sama atau serupa. Mungkin saja kondisi hati keduanya tidak jauh berbeda, sama-sama merasa susah dan mungkin sulit menemukan celah syukur. Tapi, istri pertama membuka aib keluarga, istri kedua menutup aib keluarga.

Perbedaan lisan yang luar biasa, yang memperlihatkan kualitas pribadi masing-masing.


Saya juga jadi ingat kisah ART sy sebelumnya yang saya ceritakan di sini. Beliau menutup aurat pandai sekali, sholat dan mengaji pandai sekali, namun kerap kali saya temukan beliau membicarakan aib majikan-majikan sebelumnya. Ternyata memang walaupun kerjanya sangat bagus, tapi lisannya sering menyakiti. Bukan hanya menyakiti mantan-mantan majikannya di belakang, tapi juga menyakiti majikannya yang sekarang.

Ternyata “hanya perkataan” ini akibatnya fatal sekali.

Dari Abu Hurairah, ia berkata,

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ « تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ ». وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ « الْفَمُ وَالْفَرْجُ »

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.” Beliau ditanya pula mengenai perkara yang banyak memasukkan orang dalam neraka, jawab beliau, “Perkara yang disebabkan karena mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi no. 2004 dan Ibnu Majah no. 4246. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Saya juga jadi ingat hadits bahwa satu perkataan bisa memindahkan posisi seseorang drastis sekali, yaitu hadits berikut ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

إن العبد ليتكلم بالكلمة من رضوان الله , لا يلقي لها بالا , يرفعه الله بها درجات , و إن العبد ليتكلم بالكلمة من سخط الله , لا يلقي لها بالا يهوي بها في جهنم

Sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan keridhoan Allah, namun dia menganggapnya ringan, karena sebab perkataan tersebut Allah meninggikan derajatnya. Dan sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah, namun dia menganggapnya ringan, dan karena sebab perkataan tersebut dia dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim).


Astagfirullah. Saya jadi ingat kesalahan-kesalahan saya di waktu dulu karena kurang pandainya saya dalam menjaga dan menata lisan. Astaghfirullah.

Sumber Hadits:

Sumber

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.