Twists and Turns of Ph.D. Journey (1)

Assalamualaikum.

Kali ini, saya ingin menceritakan perjalanan saya yang penuh lika liku dalam mendaftar program Ph.D. di luar negeri. Mungkin ini sangat trivial bagi sebagian orang, tapi bagi saya, perjalanan ini panjang sekali, penuh liku.

Sudah lama sebenarnya ingin kuliah di luar negeri, namun saya sempat mengubur dalam-dalam mimpi tersebut karena sebuah alasan. Setelah alasan itu hilang, saya ingin kembali menggapai cita. Sudah terlambat karena sudah ketuaan sebenarnya. Tapi saya coba aja.

2016: Coba Apply NTU tanpa persiapan

Pada tahun 2016, waktu saya masih mengajar di Telkom University dan anak pertama masih baru berumur 3 bulan, saya nekat mencoba mendaftar ke Nanyang Technological University dengan persiapan seadanya. Dengan hanya menghubungi 2-3 profesor, saya mendaftar dengan score IELTS hanya 5.5 (dodol parah kan ya) dan score GRE 306 (VR 144, QR 162, AW 2). Tidak ada profesor yang membalas. Bisa diprediksi hasilnya, gagal tentu saja.

2017: Mulai mencari profesor dari berbagai universitas

Setelah itu, saya mencoba melakukan lebih banyak persiapan. Diantaranya:

  1. Membuat CV yang baik. Berikut ini contoh CV yang saya pakai: Link CV.
  2. Menulis cover letter. Contoh cover letter yang saya gunakan sampai dapat beberapa profesor bisa dilihat di sini.
  3. Menghubungi professor. Saya menghubungi puluhan profesor dari 8-9 universitas dari dalam dan luar negeri. Berikut ini daftar profesor yang saya hubungi di tahun 2017:

Ada beberapa profesor yang saya hubungi pula dari NTU Singapore. Dan tidak ada balasan.

Karena melihat beberapa penolakan dan pengabaian email, saya memutuskan untuk mendatangi profesornya langsung.

2017, September: Mendatangi Prof Koen Hindriks di TU Delft

Kebetulan, suami yang bekerja di GMF mendapatkan tiket gratis naik pesawat Garuda ke dalam atau luar negeri. Kami gunakan tiket itu untuk jalan-jalan ke Eropa, termasuk ke Belanda. Sebelum ke Belanda, saya mengirimkan email ke beberapa profesor dan ada beberapa yang menanggapi positif. Saya menghubungi Prof. Koen Hindriks karena saya merasa bidang beliau beririsan dengan apa yang ingin saya pelajari. Saya bilang juga pada tanggal 1 September saya dan keluarga sedang ke Belanda, apakah bisa bertemu. Beliau mengiyakan.

Jalan-jalan naik sepeda di sekitar gedung EEMCS TU Delft sambil gendong bayi Faqih.

Akhirnya, 1 September 2017, tepat di hari Idul Adha, saya mengunjungi beliau di labnya. Suami dan anak sholat idul adha bersama mahasiswa TU Delft dari Indonesia.

Hal yang dodol saya lakukan, yaitu:

  1. Saya mengorbankan sholat Idul Adha hanya untuk bertemu beliau.
  2. Saya bersedia bersalaman dengan beliau karena takut beliau menolak saya sebagai student kalau saya tidak mau salaman.

Kalau diingat-ingat, saya sangat malu karena begitu mudahnya saya mengorbankan akhirat karena saking takutnya kehilangan kesempatan PhD.

Begitu pertama kali bertemu, ternyata beliau memperhatikan penampilan saya yang menggunakan gamis dan kerudung, sambil melihat dari atas ke bawah. Setelah berdiskusi dengan bahasa Inggris saya yang berantakan, dia bilang bahwa dia merasa saya tidak cocok menjadi muridnya, karena topik penelitian saya terlalu luas, terlalu teknis dan tidak cocok sebagai topik PhD.

Saya pun kembali ke tempat sholat Idul Adha mahasiswa TU Delft dan bertemu dengan teteh senior, alumni IF ITB, di sana. Teteh tersebut mengatakan bahwa justru bersyukurlah karena tidak jadi mahasiswa prof tersebut. Beberapa bulan kemudian, ternyata prof tersebut memang pindah ke VU Amsterdam.

2017, Desember: Petunjuk dari Mimpi untuk Menghubungi Profesor di Singapura


Insya Allah berlanjut di postingan selanjutnya

Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

You may also like...

5 Responses

  1. November 19, 2021

    […] often think to study as high as possible, at the most possible top universities, and eventually end up working at the most prestigious […]

  2. November 21, 2021

    […] 2017 akhir, saya sempat mendaftar S3 di UI. Setelah lulus seleksi akademik, saya diwawancara oleh sejumlah akademisi di UI, termasuk […]

  3. November 25, 2021

    […] Dari cover letter serupa seperti di atas, saya sempat mendapatkan penerimaan menuju tahap interview dari sekitar 5 professor dari TU Delft, TU Vienna, University of Southampton, University of Melbourne dan UNSW. Kisah lengkapnya bisa dibaca di postingan blog yang lain. […]

  4. November 25, 2021

    […] Baca Juga: Twists and Turns of Ph.D. Journey (1) […]

  5. November 27, 2021

    […] Baca Juga: Twists and Turns of Ph.D. Journey (1) […]

Leave a Reply

Your email address will not be published.